Feeds:
Pos
Komentar

CANDIDE : THE OPTIMIST

“Semua yang terjadi di dunia dimaksudkan untuk tujuannya yang terbaik.”

Penulis mengutip sebuah frase yang terdapat dalam satire berjudul ‘”Candide” karya Voltaire. Saat Candide, lelaki lugu dan baik hati yang menjadi tokoh utama dalam karya tersebut, merasa resah dan bertanya pada gurunya akan hakikat nasib sial yang terus menerus menimpanya.
“Tentu saja ada rangkaian peristiwa dalam dunia yang terbaik ini. Pertimbangkan saja, seandainya kau tidak ditendang keluar dari kastel indah itu karena mencintai nona Cunegonde, seandainya saja kau tidak dihukum oleh inkuisisi, seandainya kau tidak melakukan perjalanan sepanjang Amerika berjalan kaki, seandainya kau tidak menusuk Baron, seandainya kau tidak kehilangan dombamu yang kau peroleh di negeri impian El- Dorado – maka kau tidak akan berada disini sekarang, makan manisan sitrun dan kacang pistachio.” Begitu Sang Guru dr. Pangloss, seringkali berkata pada Candide.
Voltaire (1694 –1778) bernama asli Francois Marie Arouet adalah filsuf Perancis yang sangat brilian pada abad ke-18. Melalui ‘Candide”, Ia menggugat Filosofi Optimisme (terhadap kehendak Tuhan) yang mengatakan bahwa semua bencana dan penderitaan manusia adalah bagian dari rencana kosmis yang baik hati. Filosofi Optimisme yang digugat Voltaire, melalui satire-nya itu, merupakan perkara filsafati yang tidak pernah selesai diperdebatkan dalam sejarah umat manusia yaitu mengenai hakikat kehendak Tuhan terhadap mahluknya. Dalam khasanah Ilmu Kalam di dunia Islam, konsep tersebut telah dikenal sejak lama dalam berbagai bentuk paham teologi Dialektika. Diantaranya konsep “Al – Shalah Wa`l Aslah”, salah satu hasil pemikiran kaum Mu`tazilah (qadariyyah) yang menyatakan bahwa “ Semua perbuatan Tuhan, tidak lepas dari manfaat dan kemaslahatan. Tuhan tidak menghendaki sesuatu kecuali bermanfaat bagi manusia, bahkan Ia mesti menghendaki yang baik dan terbaik untuk kemaslahatan manusia.”

Abu al-Hasan ‘Ali Al-Asy’ari (873 M-935 M) merumuskan pemahamannya sendiri mengenai hakikat kehendak Tuhan : bahwa tidak ada kebaikan atau keburukan di bumi kecuali yang dikehendaki Allah, dan segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah (Q., 81:29), Manusia harus berusaha namun mereka tidak memiliki pada diri mereka sendiri (memberi) manfaat atau madarat, kecuali dengan yang dikehendaki Tuhan. Al-Asy’ari, seperti Mu’tazilah, meyakini bahwa Tuhan adalah Maha Adil. Tetapi seperti kaum Salafi, ia menolak mewajibkan Tuhan untuk mewujudkan yang terbaik. Dan masih banyak lagi konsep-konsep mengenai hakikat keadilan yang mencerminkan hubungan antara Tuhan dan manusia dalam Teologi Dialektika, termasuk pemikiran para pembaharu seperi Ibnu Taymiyyah dari mazhab Salafi atau Muhammad Abduh, namun terlepas dari sengitnya perdebatan internal antara berbagai paham tersebut, seluruhnya sudah barang tentu tetap merupakan refleksi atas keyakinan dan kepasrahan terhadap kekuatan yang transenden dan Maha Adil. Sebagaimana dikatakan Ibn Taymiyah, “Pangkal agama adalah Al-Islam (sikap pasrah), meskipun syari`atnya bermacam-macam.”
Relevansinya ialah bahwa sebagian besar warga negara Indonesia beragama Islam dan menganut paham Asy’ari di bidang teologi. Kita seringkali mendengar dalam setiap percakapan masyarakat di Indonesia manakala seorang tertimpa musibah berbagai ungkapan yang menandakan penerimaan seperti:

“Tuhan Maha Tahu yang Terbaik bagi Hambanya.”
“Segala sesuatu diciptakan ada tujuannya, setiap kejadian pasti ada hikmahnya.”
“Segala sesuatu berasal dari Tuhan dan Kembali pada Tuhan.”
“Ini merupakan Takdir yang harus diterima.”

Ketika seorang terkena kecelakaan lalu lintas dan kehilangan kedua kakinya , maka Ia masih bisa bersyukur karena masih memiliki tangannya ; ketika seorang kehilangan seluruh hartanya, maka Ia masih bisa bersyukur karena tidak kehilangan nyawanya. Ketika seorang dieksploitasi dan dikorupsi hak-nya oleh pihak lain , maka Ia masih bisa bersyukur bahwa memang sudah sebegitulah takaran rezekinya. Dan ketika seorang tertimpa bencana alam yang merenggut keluarganya, melenyapkan harta dan menghancurkan tempat tinggalnya, maka Ia masih bisa bersyukur dirinya masih bisa selamat dan menerimanya sebagai kehendak Tuhan. Para penganut agama – dalam hal ini Islam – selalu mempunyai kemampuan untuk lebih sabar dan mengambil kebaikan (hikmah) dari suatu keadaan yang paling buruk sekalipun yang menimpanya.

Lalu apakah yang salah dengan pemahaman yang disebut Voltaire sebagai Filosofi Optimisme (terhadap kehendak Tuhan) ini, sehingga Ia mengkritik dan memperoloknya habis-habisan melalui karya satire –nya yang berjudul “Candide”?

Sikap sabar dan pasrah kehadirat Tuhan merupakan ciri umat beragama. Tidak ada agama tanpa sikap pasrah. Namun demikian, dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat dimana kerap terjadi praktik – praktik ketidakadilan terhadap kaum marginal yang berlangsung secara terus menerus, kesabaran lebih banyak disalahartikan dan direduksi maknanya menjadi kesabaran untuk menerima keadaan dan bukan kesabaran dalam berjuang melakukan perbaikan sistem psiko – sosio – ekonomi yang lebih adil. Ketundukan pada Kehendak Tuhan lebih banyak diartikan sebagai penyerahan diri secara pasif kepada kemauan Tuhan. Kondisi tidak adil yang sulit dirubah, membuat individu frustasi dan menjadi fatalis. Sikap inilah yang melanggengkan status quo dan menjadikan umat kehilangan atau lemah daya kritisnya terhadap praktik-praktik ketidakadilan yang dilakukan oleh negara. Padahal jika ketundukan pada kehendak Tuhan diartikan secara pasif, Tuhan tidak akan memerintahkan manusia untuk berbuat kebaikan dan mencegah dari perbuatan tercela, Tuhan tidak akan memerintahkan manusia untuk bertindak adil dan memerangi kezaliman, dan jika Tuhan memaksakan kehendak-Nya pada manusia, maka konsep pahala dan dosa tidaklah berlaku.

Keyakinan, kepasrahan, optimisme dan kesabaran merupakan hal yang fundamental dalam dakwah Islam. “Allah mencintai orang-orang yang sabar.” Kata Al-Qur`an. Namun kesabaran ini jangan disalahartikan sebagai kesabaran dan kepasrahan untuk menerima keadaan secara pasif, melainkan kesabaran dalam upaya melakukan perbaikan untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang berkeadilan, disertai optimisme bahwa Tuhan kelak akan berkehendak mewujudkannya setelah upaya dan perjuangan manusia baik secara individu maupun kolektif yang sungguh-sungguh.
Kita tidak dapat menutup mata terhadap sederet fakta permasalahan yang tengah melanda negeri yang sejatinya kaya akan Sumber Daya Alam ini : berbagai kasus korupsi, ketidakadilan hukum, mafia peradilan, illegal logging, penggelapan pajak, sempitnya lapangan pekerjaan, kemiskinan, minimnya layanan kesehatan, tingginya tingkat kematian ibu dan bayi, gizi buruk, rendahnya kualitas pendidikan, kerusuhan dan konflik sosial, dan seterusnya. Ditambah lagi dengan model kebijakan pembangunan yang eksploitatif tanpa kearifan ekologi, telah menyebabkan kerusakan lingkungan hidup seperti : kerusakan hutan, hancurnya wilayah tangkapan dan Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai sumber pemasok air bersih, pencemaran udara pada tingkat yang membahayakan, hancurnya wilayah pesisir, sehingga menyebabkan meningkatnya jumlah bencana ekologis seperti : banjir, longsor, gagal panen, gagal tanam, dan kebakaran hutan termasuk semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo.

Betapa dibutuhkan kesabaran seluas samudera untuk menghadapi berbagai fakta pahit tersebut. Struktur psiko – sosio – ekonomi yang bersifat tidak adil haruslah dikoreksi melalui upaya yang sungguh-sungguh. Mereka yang memiliki Ilmu dan wewenang, dapat merubah kemungkaran dengan tangannya (tindakan) ; Mereka yang memiliki Ilmu tapi tidak memiliki wewenang dapat merubah kemungkaran dengan lisannya (wacana) ; Mereka yang tidak memiliki ilmu dan tidak pula memiliki wewenang dapat membenci kemungkaran dalam hati sambil tetap meningkatkan partisipasi politiknya. Upaya inilah yang tidak mudah dan membutuhkan keyakinan, kesabaran dan optimisme yang luar biasa. Agama – dalam hal ini Islam – hadir untuk menyelamatkan, membela dan membebaskan manusia dari kondisi – kondisi ketidakadilan. Ini dapat dilihat dari begitu banyak ayat Al-Qur`an yang memerintahkan manusia untuk berbuat adil dan menentang kezaliman. Begitu banyaknya ayat Al Qur`an yang secara langsung ataupun tidak langsung menggugat kondisi ketidakadilan yang terjadi ditengah masyarakat, bangsa dan negara. Kesabaran dan optimisme yang menerima kondisi mapan itulah yang merupakan candu sebagaimana digugat oleh Voltaire melalui candide, sedangkan kesabaran dan optimisme dalam upaya menciptakan perubahan sosial akan menjadi kekuatan psikologis yang luar biasa dalam perjuangan mewujudkan tatanan masyarakat yang berkeadilan.

Voltaire menyadari hal-hal buruk yang ada di dunia, namun itu tidak menyebabkan Ia menampik hidup. Ia tidak putus asa, bunuh diri atau menjadi fatalis. Ia menggugat filosofi optimisme bahwa “Semua hal yang terjadi di dunia ini adalah untuk tujuan yang terbaik” namun gugatan itu juga tidak menyebabkannya menafikan yang transenden. Voltaire percaya adanya Tuhan. Tapi Ia juga percaya pada usaha manusia untuk memperbaiki nasibnya sebagaimana dipertegasnya dalam novel Candide. Melalui Candide, Voltaire membuat kita tertawa geli, namun justru pada kalimat pendek terakhir yang menutup novel satire itu, Voltaire mengusulkan suatu jalan keluar yang sangat serius, sekaligus praktis dan membumi, yaitu saat super-optimis Dr. Pangloss berusaha meyakinkan Candide bahwa “Dunia ini adalah yang terbaik dari semua yang mungkin didapat” dan Candide pun menjawabnya : “Pemikiran yang bagus. Tapi Ayo, kita harus menggarap kebun ini.”

Hesty Dharmanita Wianggawati

OTORITAS

Seorang kawan yang baik pernah bertanya pada saya, mengapa pola pikir saya tentang agama tetap  ortodoks dan konservatif, melihat bermacam referensi saya yang sangat liberal. Sekilas Ia melemparkan guyonan bahwa semua referensi saya yang liberal itu ternyata tidak membawa pengaruh apapun terhadap cara pandang saya tentang surga dan neraka.

Saya tertegun dan lantas merenung.  Mencari jawaban atas pertanyaan itu bagi diri sendiri.

Sesuai kodratnya sebagai mahluk yang memiliki hawa nafsu, maka liberalisme pastilah akan sangat menggiurkan bagi manusia manapun. Termasuk saya, absolutely. Termasuk saya.

Tidaklah diragukan lagi kegeniusan nalar dan otoritas para filsuf barat yang berbicara tentang sains, filsafat, teologi. Dialektika Hegel misalnya : bahwa kebenaran merupakan suatu “on going process”. dimana apa yang diketahui terus berkembang: tahap yang sudah tercapai “disangkal” atau “dinegasi” oleh tahap baru. sehingga tahap lama itu menjadi tidak benar karena terbatas. Dalam hal keilmuan atau sains, dialektika Hegel  tentu saja mengandung kebenaran dan dapat diterapkan untuk menjelaskan bermacam gejala dan menciptakan banyak penemuan sebab berdasarkan teori keilmuan, seorang tidak akan pernah mendapatkan hal yang pasti mengenai suatu kejadian atau gejala tertentu, melainkan suatu kesimpulan yang probabilistik*) dan terbatas, karena ilmu pengetahuan selalu berkembang.

Namun bagaimana dengan hal yang menyangkut keyakinan, hakikat manusia yang bersifat teologis termasuk pancarannya ke segala arah?

Sekian banyak teori filsafat yang menafikkan agama, namun Ia tetap hadir dari zaman ke zaman. Agama, secara intuitif telah diterima sebagai sebuah kebenaran oleh seseorang, tanpa pola pikir dan logika  tertentu. Seorang begitu saja percaya bahwa yang diwahyukan adalah benar. Perkembangan keyakinan selanjutnya ditentukan pengalaman keberagamaan masing – masing orang.

Sederhananya, apakah saya akan belajar tentang keyakinan (faith), pertama dari Feurbach, Marx atau Nietzsche yang membunuh Tuhan; Focault homoseks yang akhirnya meninggal dunia karena aids  ; Atau dari Derrida, yang tidak peduli etika dan bahkan tidak mengenal dirinya sendiri?

Tentu saja tidak.

Keputusan menyerahkan diri pada otoritas penafsiran sahabat, mufasir, ulama, mujtahid – sebagai pemilik pemahaman yang paling mendekati kebenaran seperti apa yang dimaksudkan oleh ajaran-NYA –  sebagaimana meyakini bahwasanya perbuatan manusia kelak harus dapat dipertanggungjawabkan dihadapan Sang Pencipta di kehidupan selanjutnya, lebih banyak disebabkan oleh pemikiran hati meskipun logika juga berperan disana.

Kiranya sangatlah tepat peryataan Blaise Pascal**) bahwa dalam menentukan pemilik otoritas penafsiran tentang keyakinan : Hati memiliki logikanya sendiri.

.

Bogor, August 2010. – Hesty Dharmanita Wianggawati.

.

*)    Djudjun SS – Filsafat Ilmu 1986

**)  Blaise Pascal : French mathematician and philosopher and Jansenist; invented an adding   machine; contributed (with Fermat) to the theory of probability (1623-1662). Genius yang menjawab kritik  terhadap keyakinannya dengan mengatakan : “God cant be scientifically proven. I know whom I  Have believed. “

RELINQUISHMENT

Setiap hari aku tidak berhenti mengingatkan diriku

Untuk selalu melepaskan Balon

Balon Merah

Balon Kuning

Balon HIjau

Biru

Jingga

Ungu

Balonku yang tak habis- habis

 

Image

CHEERS!

Aku Akan Merayakan Hari Ini

Aku Akan Merayakannya Disini

Dijalan Setapak Yang Selalu Kulewati

Diantara Rerimbun Pohon

Yang  Biasanya Kuhindari

Aku Akan Merayakan Hari Ini

Aku Akan Merayakannya Disini

Ditengah Udara Lembab Dan Semilir Angin Dingin

Sepasang Muda Mudi Bercengkrama

Seorang Tua Termenung Ditempat Yang Sama.

Aku Ingin Merayakan Hari Ini

Ditengah Hangatnya Nyala Lilin Kecil

Dengan Kue Manis Dan Permen Warna Warni

Gelak Tawa Dan Gegap Gempita

Tapi Ini Bukan Tentang Itu

Hanya  Perayaan Sederhana

Dengan Detil Extravaganza

Aku Akan Merayakan Hari Ini

Dengan Sukacita, Disini.

Dijalan Setapak

Diantara Rerimbun Pohon

Ditengah Udara Lembab Dan Semilir Angin Dingin

Sepasang Muda Mudi Bercengkrama

Seorang Tua Termenung Ditempat Yang Sama.

Semuanya …

Mari  Bersulang

Gambar

Gula – Gula

Sebuah toples terisi penuh gula – gula

Seolah mengajak lidahku berdansa

 

“Maaf. Aku punya Gula. “

 

Ia merajuk mesra.

“Sedikit saja.. ” Bisiknya manja..

 

Gula – gula warna warni

Sangat menggoda hati ..

 

Seandainya itu adalah Ikan

Dan aku seekor kucing ..

Pasti gula – gula

Sudah kujilati dan kulumat habis

 

Tapi itu gula – gula , bukan Ikan.

Dan aku, bukan kucing.

 

“Maaf. Aku punya gula.”

 

 

***.

Bogor, April 2011

clip_image002

***

Puan Seruni bangkit dari tempat  tidurnya perlahan-lahan. Ia tidak ingin  membangunkan kekasihnya.

Dipandanginya pakaian mereka yang berserakan di lantai. Tas kerjanya di depan pintu, sepatu kanannya di bawah meja, sepatu kirinya dekat jendela dan kaos kakinya entah di mana.  Kamar itu begitu hening. Namun, kondisinya berantakan yang tak lain adalah saksi bisu dari gemuruh percintaan mereka semalam.

Ditatapnya dengan penuh cinta, pria yang tengah tidur berselimut di tempat tidurnya. Begitu tampan. Tubuhnya atletis dan wajahnya terpahat nyaris sempurna. Tak pernah puas hati Puan menatapnya, bahkan di usianya yang 39 tahun,  Raditya  tampak semakin menawan.

Puan baru akan mengenakan pakaiannya ketika Raditya terbangun.

“Ah.. jam berapa ini, Puan?” Katanya.

“Baru setengah sembilan, tinggallah sebentar lagi..” kata Puan sambil merebahkan kepalanya di atas dada Raditya yang bidang.

Lelaki itu langsung terlonjak, “  Gosh!  Honey,  aku mesti segera pulang, sekarang ini ada pesta ulang tahun Mamaku, kamu kan tahu. Kenapa tidak membangunkanku dari tadi sih?”

Raditya mengenakan pakaiannya cepat-cepat. Puan memandanginya tanpa daya.

“Kapan, kita ketemu lagi, Radit?”rengek Puan.

“Minggu depan, Sayang. Aku janji.”

Radit menciumnya cepat dan beranjak keluar dengan tergesa.

***

Puan melangkah ke depan cermin di pojok kamarnya. Ditatapnya bayangan dirinya di sana. Bola matanya cokelat berbinar cerdas, bibirnya kecil tapi penuh, hidungnya yang mancung, semua tertata pada wajah ovalnya. Warna kulitnya tidak terlalu terang, namun itu menjadikan kecantikannya semakin eksotik. Tak akan ada yang menyebutnya biasa. Ditambah dengan kecerdasan, kepribadiannya yang supel dan menarik, Puan Seruni sangat luar biasa.

Selepas kuliahnya di jurusan akuntansi di salah satu universitas negeri terkemuka di Jakarta, Puan bekerja sebagai Akuntan di salah satu Perusahaan baja multinasional, dan pada saat Puan mewakili perusahaannya dalam sebuah  meeting dengan perusahaan Metal Coorp. Saat itulah Ia mengenal Radit yang bukan hanya Manager di perusahaan tersebut  tapi juga putra tunggal sang direktur pemilik perusahaan sekaligus pewaris tunggal Metal Coorp.

Mereka pun berpacaran. Meskipun Puan tahu, Radit adalah pria beristri dan telah memiliki 2 orang anak. Ia tidak peduli. Toh, Radit selalu berkata bahwa Ia tidak pernah mencintai istrinya karena mereka menikah atas dasar perjodohan belaka.

“Aku pasti akan menceraikan Bella, dan segera menikahimu, cintaku Puan Seruni” Begitu Radit selalu berkata.

Kisah kasihnya dengan Raditya berlangsung membara. Kesuciannya adalah hal pertama yang Ia persembahkan untuk pria tampan itu, selanjutnya percintaan mereka semakin menggila.

Lelaki itu sangat tahu, bagaimana cara menikmati hidup. Dan Ia membawa Puan turut mencicipi manisnya kemewahan dan surga dunia.  Kehidupan serba Lux di apartemen mewah yang dibelikan Radit untuknya. Gaya hidup mewah ala Radit, foya–foya dan pesta anggur kini juga merupakan gaya hidupnya. Mabuk-mabukkan di klub-klub malam yang diakhiri dengan percintaan  yang dahsyat.

Percintaan dahsyat selama 5 tahun yang seluruhnya selalu berakhir sama seperti  saat ini, Radit yang tergesa-gesa, lari, dan pergi meninggalkannya, sendiri.

Kini sudah 5 tahun berlalu dan Radit tidak kunjung memenuhi  janjinya.

Puan mulai gelisah. Usianya kini sudah 29 tahun, dan Ia belum dapat memenuhi keinginan orang tuanya untuk segera menikah dan memberikan mereka cucu, bahkan sampai kematian ayahnya tiga bulan yang lalu.

***

Hingga tibalah mereka pada suatu hari yang menggemparkan di kantornya.

Hari itu Puan tengah berkonsentrasi memeriksa jurnal di meja kerjanya, saat  Bella  tiba-tiba  muncul di hadapannya.

Selama  5 tahun,  baru kali inilah Puan bertemu langsung dengan Bella, istri Radit.

“KAU, JALANG!!!!!” teriak Bella, diterjangnya Puan yang masih membeku di kursinya hingga Ia jatuh dan kepalanya membentur kaki meja.

Puan terlalu terkejut bahkan untuk bisa bersuara, apalagi membela diri.

“Ternyata Kau yang menghancurkan keluargaku!”

PEREMPUAN MURAAHAN!!!”

Rekan–rekan kantornya berusaha melerai, namun kemarahan Bella begitu sulit untuk diredam. Ia terus berteriak, mencaci maki, memukuli  wajah Puan dengan apa saja yang bisa diraihnya, menjambak rambutnya sekuat tenaga, menendang tubuhnya, sementara Puan hanya meringkuk pasrah sembari menangis menahan sakit tanpa mampu berucap sepatah kata pun.

Sejak lama Puan tahu, saat seperti ini pasti akan tiba..Ia bahkan nyaris menantikannya.

Butuh 5 orang untuk menarik Bella keluar dari sana dan menyelamatkan Puan dari amukannya. Namun sepanjang koridor kantor mereka membawanya, perempuan itu terus menangis sambil meneriakkan kebencian, sakit hati dan kepedihan yang menyayat hati siapapun yang mendengarnya.

***

“Hushh..hushh..husshhh….Sayang, Sayang..”

“Berhentilah dulu menangis dan dengarkan aku,  dengarkan aku.. sekarang saatnya kita jalankan rencana kita, Ok?” suara Radit di telepon terdengar sangat panik.

“Dengar, kali ini aku akan benar-benar meninggalkannya, perempuan brengsek!” lanjut Radit.

“Sekarang tenangkanlah dirimu dulu, tidak usah khawatir, aku akan membereskan semuanya. Apa kamu dengar, Puan?”

“Ya…” lirih Puan, nyaris tak terdengar. Tubuhnya menggigil dan wajahnya penuh memar. Ucapan-ucapan Radit pun tak mampu menenteramkan hatinya.

Radit menghela nafas “Aku belum bisa menemuimu. Masih terlalu riskan. Terlalu bahaya. Bisa rusak rencana kita nanti. Untuk sementara tidak usah keluar rumah dulu ya. Kemasi saja barang-barangmu,  lusa aku akan menjemputmu. Kita terbang ke London.”

***

Hari itu, di Bandara International Soekarno-Hatta. Pesawat tujuan London, dua jam lagi akan take off.

Radit belum tiba. Tapi mereka sudah bicara di telepon semalam. Radit sangat mencintainya.

Ia pasti datang.

Puan  berdoa.

Mungkin inilah doa pertama yang ia panjatkan setelah bertahun-tahun ia berhenti berdoa.

Puan yakin, Radit akan datang. Tuhan masih menyayanginya, sebentar lagi impiannya akan terwujud.

Setelah semua pengorbanannya menjadi kekasih gelap Raditya selama bertahun-tahun.

Maka saat inilah Ia akan memetik hasil dari segala cinta dan ketulusannya selama ini.

Ia pasti datang.

Puan berdoa dan berdoa..

Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. .

“Halo..” suara lirih Puan, Firasatnya tidak enak.

“Sayang.. dengar, Ayahku sangat murka, aku tidak peduli dengan Bella  si brengsek itu, tapi ini Ayahku , Ia tahu rencana kita dan Ia sangat marah.”

Puan tercekat. Bayangan  tentang apa yang mungkin akan terjadi mulai  memenuhi benaknya.

“Bella mengadu pada Ayah. Ayahku, dia.. dia mengancam akan membekukan semua asetku dan mencoretku dari daftar warisannya.”

Puan  merasa mual “Tapi Radit, Ayahmu sudah sering mengancammu begitu..”

“Tidak, kali ini dia sungguh-sungguh, Puan. Sebagian rekeningku sudah diblokir, aku bisa kehilangan segala-galanya.”

Puan terisak “Radit, aku punya cukup tabungan…. “

“Puan …..”

“Kita bisa memulai semuanya dari awal…..Kita bisa…”

“Puan, Maafkan Aku…”

“Jangan… Radit.. “ Puan menggigil. Nafasnya terasa sangat sesak.

“Maafkan aku..Puan” suara Radit terbata.

“Kumohon…”  tubuh Puan gemetar hebat.

“Maafkan aku.. “

“Maafkan aku Puan..”

***

Bagaimanakah nasib Puan Seruni selanjutnya? dan bagaimana kelanjutan hubungan antara Puan dan Raditya? mari kita lanjutkan kisahnya dalam Sandaran Hati yang ditulis oleh Rohmi Arundati (Nandini), jika belum membaca cerita pertama silahkan baca Saat Semuanya Terlihat Sempurna yang di tulis oleh Fitriane Lestari (‘Ne)

Artikel ini diikutsertakan dalam pagelaran Kecubung 3 Warna yang diadakan oleh newblogcamp.com

NEGERI PELANGI

Malam itu Ia tidak banyak bicara, lebih banyak diam, memandangi langit – langit  kamar.  Saya segera menutup buku dan menghampirinya lalu bertanya kenapa Ia  tidak banyak mengoceh seperti biasanya, apa yang tengah Ia pikirkan.

Adlina Widad (4 th), memeluk saya dan dengan sedih balik bertanya, kenapa semua manusia pasti mati?  Lalu ia berkata :  tidak ingin mati, dikubur dan disiksa Tuhan.

Saya tidak terlalu terkejut. Pada usia 3 tahun Ia berkali – kali bertanya : Jiwa itu apa, Jiwa adanya dimana,  Jiwa bentuknya seperti apa dsb. Hal – hal demikian sepertinya sangat menarik baginya dan sedikit mengherankan pada awalnya, mengingat saat itu Ia masih batita.

Saya pun menjelaskan padanya tentang manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa. Kehidupan tubuh sangat sebentar, bisa jadi jelek, tua, sakit, membusuk dan mati. Saat tubuh rusak dan mati maka tubuh dikuburkan. Tubuh mati tapi jiwanya yang indah lepas, kelak terbang ke negeri pelangi yang abadi. Di negeri pelangi kelak jiwa kita akan bertemu dengan Tuhan, malaikat, para nabi dan orang- orang yang kita sayangi. Semakin kita banyak berbuat baik, jiwa semakin indah dan perjalanan menuju negeri pelangi akan semakin mudah. Itulah kenapa kita harus selalu berusaha berbuat baik pada orang tua, teman, guru, semua orang disekeliling kita termasuk hewan dan tumbuhan.

Bahwa siksa kubur memang ada dan akan menimpa orang-orang yang keji dan tidak mau bertobat, kita harus percaya. Tapi Tuhan bukanlah maha penyiksa yang kejam dan mengerikan. Tuhan Maha Baik, Maha Agung, Maha Penyayang dan tidak mungkin merasa perlu menyiksa hambanya : Manusia itu tidak ada yang sempurna dan pasti berbuat  salah. Tuhan sangat mengasihi dan menyayangi hambanya, Maha lembut, Maha Pemaaf  dan Maha Kuasa. Sifat –sifat Tuhan sangat lah indah.

Penjelasan sederhana dan disertai beberapa shortcut itu, saya kira jauh lebih sesuai terutama untuk anak seusianya. Sepanjang saya menjelaskan, Ia menyimak dengan seksama dan terlihat begitu takjub, hingga akhirnya tersenyum lega.

Begitu banyak cerita – cerita tentang siksa Tuhan yang teramat dahsyat dan tak tertanggungkan di masyarakat. Sungguh saya tidak ingin Ia menjadi terasing dari proses yang membentuk dirinya karena pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab terus menerus menanamkan rasa horor  terhadap Tuhan dalam dirinya.

Biarkan ia tumbuh dan berkembang dengan penuh kerinduan pada negeri pelangi, pada keindahan yang maha indah. Keimanan tumbuh, lebih disebabkan oleh rasa kerinduan dan kebutuhannya terhadap Tuhan, bukan ketakutan.

Adlina putriku, dengan caranya sendiri, kelak akan menemukan : Hidup ini hanya sekejap mimpi, memang bukan disini tempatnya mencari kebahagiaan hakiki, karena ini bukan negeri pelangi.

Bogor, Februari 2011.

Hesty Dharmanita W