Feeds:
Artikel
Komentar

CANDIDE : THE OPTIMIST

“Semua yang terjadi di dunia dimaksudkan untuk tujuannya yang terbaik.”

Penulis mengutip sebuah frase yang terdapat dalam satire berjudul ‘”Candide” karya Voltaire. Saat Candide, lelaki lugu dan baik hati yang menjadi tokoh utama dalam karya tersebut, merasa resah dan bertanya pada gurunya akan hakikat nasib sial yang terus menerus menimpanya.


“Tentu saja ada rangkaian peristiwa dalam dunia yang terbaik ini. Pertimbangkan saja, seandainya kau tidak ditendang keluar dari kastel indah itu karena mencintai nona Cunegonde, seandainya saja kau tidak dihukum oleh inkuisisi, seandainya kau tidak melakukan perjalanan sepanjang Amerika berjalan kaki, seandainya kau tidak menusuk Baron, seandainya kau tidak kehilangan dombamu yang kau peroleh di negeri impian El- Dorado – maka kau tidak akan berada disini sekarang, makan manisan sitrun dan kacang pistachio.” Begitu Sang Guru dr. Pangloss, seringkali berkata pada Candide.


Voltaire (1694 –1778) bernama asli Francois Marie Arouet adalah filsuf Perancis yang sangat brilian pada abad ke-18. Melalui ‘Candide”, Ia menggugat Filosofi Optimisme (terhadap kehendak Tuhan) yang mengatakan bahwa semua bencana dan penderitaan manusia adalah bagian dari rencana kosmis yang baik hati.

Filosofi Optimisme yang digugat Voltaire, melalui satire-nya itu, merupakan perkara filsafati yang tidak pernah selesai diperdebatkan dalam sejarah umat manusia yaitu mengenai hakikat kehendak Tuhan terhadap mahluknya. Dalam khasanah Ilmu Kalam di dunia Islam, konsep tersebut telah dikenal sejak lama dalam berbagai bentuk paham teologi Dialektika. Diantaranya konsep “Al – Shalah Wa`l Aslah”, salah satu hasil pemikiran kaum Mu`tazilah (qadariyyah) yang menyatakan bahwa “ Semua perbuatan Tuhan, tidak lepas dari manfaat dan kemaslahatan. Tuhan tidak menghendaki sesuatu kecuali bermanfaat bagi manusia, bahkan Ia mesti menghendaki yang baik dan terbaik untuk kemaslahatan manusia.”

Abu al-Hasan ‘Ali Al-Asy’ari (873 M-935 M) merumuskan pemahamannya sendiri mengenai hakikat kehendak Tuhan : bahwa tidak ada kebaikan atau keburukan di bumi kecuali yang dikehendaki Allah, dan segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah (Q., 81:29), Manusia harus berusaha namun mereka tidak memiliki pada diri mereka sendiri (memberi) manfaat atau madarat, kecuali dengan yang dikehendaki Tuhan. Al-Asy’ari, seperti Mu’tazilah, meyakini bahwa Tuhan adalah Maha Adil. Tetapi seperti kaum Salafi, ia menolak mewajibkan Tuhan untuk mewujudkan yang terbaik. Dan masih banyak lagi konsep-konsep mengenai hakikat keadilan yang mencerminkan hubungan antara Tuhan dan manusia dalam Teologi Dialektika, termasuk pemikiran para pembaharu seperi Ibnu Taymiyyah dari mazhab Salafi atau Muhammad Abduh, namun terlepas dari sengitnya perdebatan internal antara berbagai paham tersebut, seluruhnya sudah barang tentu tetap merupakan refleksi atas keyakinan dan kepasrahan terhadap kekuatan yang transenden dan Maha Adil. Sebagaimana dikatakan Ibn Taymiyah, “Pangkal agama adalah Al-Islam (sikap pasrah), meskipun syari`atnya bermacam-macam.”


Relevansinya ialah bahwa sebagian besar warga negara Indonesia beragama Islam dan menganut paham Asy’ari di bidang teologi. Kita seringkali mendengar dalam setiap percakapan masyarakat di Indonesia manakala seorang tertimpa musibah berbagai ungkapan yang menandakan penerimaan seperti:

“Tuhan Maha Tahu yang Terbaik bagi Hambanya.”

“Segala sesuatu diciptakan ada tujuannya, setiap kejadian pasti ada hikmahnya.”

“Segala sesuatu berasal dari Tuhan dan Kembali pada Tuhan.”

“Ini merupakan Takdir yang harus diterima.”

Ketika seorang terkena kecelakaan lalu lintas dan kehilangan kedua kakinya , maka Ia masih bisa bersyukur karena masih memiliki tangannya ; ketika seorang kehilangan seluruh hartanya, maka Ia masih bisa bersyukur karena tidak kehilangan nyawanya. Ketika seorang dieksploitasi dan dikorupsi hak-nya oleh pihak lain , maka Ia masih bisa bersyukur bahwa memang sudah sebegitulah takaran rezekinya. Dan ketika seorang tertimpa bencana alam yang merenggut keluarganya, melenyapkan harta dan menghancurkan tempat tinggalnya, maka Ia masih bisa bersyukur dirinya masih bisa selamat dan menerimanya sebagai kehendak Tuhan.

Para penganut agama – dalam hal ini Islam – selalu mempunyai kemampuan untuk lebih sabar dan mengambil kebaikan (hikmah) dari suatu keadaan yang paling buruk sekalipun yang menimpanya.

Lalu apakah yang salah dengan pemahaman yang disebut Voltaire sebagai Filosofi Optimisme (terhadap kehendak Tuhan) ini, sehingga Ia mengkritik dan memperoloknya habis-habisan melalui karya satire –nya yang berjudul “Candide”?

Sikap sabar dan pasrah kehadirat Tuhan merupakan ciri umat beragama. Tidak ada agama tanpa sikap pasrah. Namun demikian, dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat dimana kerap terjadi praktik – praktik ketidakadilan terhadap kaum marginal yang berlangsung secara terus menerus, kesabaran lebih banyak disalahartikan dan direduksi maknanya menjadi kesabaran untuk menerima keadaan dan bukan kesabaran dalam berjuang melakukan perbaikan sistem psiko – sosio – ekonomi yang lebih adil.

Ketundukan pada Kehendak Tuhan lebih banyak diartikan sebagai penyerahan diri secara pasif kepada kemauan Tuhan. Kondisi tidak adil yang sulit dirubah, membuat individu frustasi dan menjadi fatalis. Sikap inilah yang melanggengkan status quo dan menjadikan umat kehilangan atau lemah daya kritisnya terhadap praktik-praktik ketidakadilan yang dilakukan oleh negara.

Padahal jika ketundukan pada kehendak Tuhan diartikan secara pasif, Tuhan tidak akan memerintahkan manusia untuk berbuat kebaikan dan mencegah dari perbuatan tercela, Tuhan tidak akan memerintahkan manusia untuk bertindak adil dan memerangi kezaliman, dan jika Tuhan memaksakan kehendak-Nya pada manusia, maka konsep pahala dan dosa tidaklah berlaku.

Keyakinan, kepasrahan, optimisme dan kesabaran merupakan hal yang fundamental dalam dakwah Islam. “Allah mencintai orang-orang yang sabar.” Kata Al-Qur`an. Namun kesabaran ini jangan disalahartikan sebagai kesabaran dan kepasrahan untuk menerima keadaan secara pasif, melainkan kesabaran dalam upaya melakukan perbaikan untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang berkeadilan, disertai optimisme bahwa Tuhan kelak akan berkehendak mewujudkannya setelah upaya dan perjuangan manusia baik secara individu maupun kolektif yang sungguh-sungguh.


Kita tidak dapat menutup mata terhadap sederet fakta permasalahan yang tengah melanda negeri yang sejatinya kaya akan Sumber Daya Alam ini : berbagai kasus korupsi, ketidakadilan hukum, mafia peradilan, illegal logging, penggelapan pajak, sempitnya lapangan pekerjaan, kemiskinan, minimnya layanan kesehatan, tingginya tingkat kematian ibu dan bayi, gizi buruk, rendahnya kualitas pendidikan, kerusuhan dan konflik sosial, dan seterusnya. Ditambah lagi dengan model kebijakan pembangunan yang eksploitatif tanpa kearifan ekologi, telah menyebabkan kerusakan lingkungan hidup seperti : kerusakan hutan, hancurnya wilayah tangkapan dan Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai sumber pemasok air bersih, pencemaran udara pada tingkat yang membahayakan, hancurnya wilayah pesisir, sehingga menyebabkan meningkatnya jumlah bencana ekologis seperti : banjir, longsor, gagal panen, gagal tanam, dan kebakaran hutan termasuk semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo.

Betapa dibutuhkan kesabaran seluas samudera untuk menghadapi berbagai fakta pahit tersebut. Struktur psiko – sosio – ekonomi yang bersifat tidak adil haruslah dikoreksi melalui upaya yang sungguh-sungguh.

Mereka yang memiliki Ilmu dan wewenang, dapat merubah kemungkaran dengan tangannya (tindakan) ; Mereka yang memiliki Ilmu tapi tidak memiliki wewenang dapat merubah kemungkaran dengan lisannya (wacana) ; Mereka yang tidak memiliki ilmu dan tidak pula memiliki wewenang dapat membenci kemungkaran dalam hati sambil tetap meningkatkan partisipasi politiknya.

Upaya inilah yang tidak mudah dan membutuhkan keyakinan, kesabaran dan optimisme yang luar biasa. Agama – dalam hal ini Islam – hadir untuk menyelamatkan, membela dan membebaskan manusia dari kondisi – kondisi ketidakadilan.

Ini dapat dilihat dari begitu banyak ayat Al-Qur`an yang memerintahkan manusia untuk berbuat adil dan menentang kezaliman. Begitu banyaknya ayat Al Qur`an yang secara langsung ataupun tidak langsung menggugat kondisi ketidakadilan yang terjadi ditengah masyarakat, bangsa dan negara.

Kesabaran dan optimisme yang menerima kondisi mapan itulah yang merupakan candu sebagaimana digugat oleh Voltaire melalui candide, sedangkan kesabaran dan optimisme dalam upaya menciptakan perubahan sosial akan menjadi kekuatan psikologis yang luar biasa dalam perjuangan mewujudkan tatanan masyarakat yang berkeadilan.

Voltaire menyadari hal-hal buruk yang ada di dunia, namun itu tidak menyebabkan Ia menampik hidup. Ia tidak putus asa, bunuh diri atau menjadi fatalis. Ia menggugat filosofi optimisme bahwa “Semua hal yang terjadi di dunia ini adalah untuk tujuan yang terbaik” namun gugatan itu juga tidak menyebabkannya menafikan yang transenden.

Voltaire percaya adanya Tuhan. Tapi Ia juga percaya pada usaha manusia untuk memperbaiki nasibnya sebagaimana dipertegasnya dalam novel Candide. Melalui Candide, Voltaire membuat kita tertawa geli, namun justru pada kalimat pendek terakhir yang menutup novel satire itu, Voltaire mengusulkan suatu jalan keluar yang sangat serius, sekaligus praktis dan membumi, yaitu saat super-optimis Dr. Pangloss berusaha meyakinkan Candide bahwa “Dunia ini adalah yang terbaik dari semua yang mungkin didapat” dan Candide pun menjawabnya : “Pemikiran yang bagus. Tapi Ayo, kita harus menggarap kebun ini.”

Hesty Dharmanita Wianggawati

SENYUM

Para pemikir eksistensialis yang menolak yang transenden dan mengagungkan imanensi, seperti Karl Marx, Nietzche, Michel Foucault dan sebagainya sebenarnya tidak dapat berkata apa-apa kepada individu yang mengalami penderitaan pribadi atau sedang mengalami krisis hidup. Sebagaimana Marxisme sebagai agama sekuler pertama di dunia yang menganjurkan agar manusia bersabar dan merasa gembira, karena pada akhirnya semua manusia akan mendapat kebahagiaan besar dan mendorong agar membantu perjuangan untuk itu.

Ya, para eksistensialis itu tidak dapat berkata apa-apa tentang tragedi dan penderitaan pribadi, seperti yang dialami oleh Minah, perempuan penduduk negara Republik Indonesia. Sebuah negeri yang mansyhur akan kekayaan alam nan eksotik, gemah ripah loh jinawi.

Minah sudah tua. Ia hanya petani kecil yang lelah dan sepi. Ia dihadapkan ke sidang pengadilan karena mencuri 3 buah cokelat yang sudah ranum milik sebuah perusahaan perkebunan besar yang terletak disebelah tempat tinggalnya pada November 2009 lalu. Minah dijatuhi hukuman berdasarkan pasal 362 KUHP yaitu vonis kurungan 1 bulan 15 hari.

Putusan hukuman itu menjadi ironis karena semakin membuktikan sangat kuatnya hukum di negeri ini bagi orang-orang yang miskin dan tidak berdaya, yang tidak mempunyai kekuasaan. Sementara lemah terhadap kasus koruptor besar yang telah sangat merugikan  rakyat dan Negara. Manakala Muslih Bambang, SH hakim ketua di Pengadilan Tinggi (PN) Purwekorto Jateng menangis bercucuran air mata, sementara tangannya dengan berat dan gemetar terpaksa mengetuk palu menjatuhkan vonis kepada Minah dan fenomena yang sangat menarik terjadi setelahnya : Nenek renta itu bangkit menghampiri sang hakim menyalaminya, seraya berucap tulus sembari tersenyum “Maturnuwun, Pak hakim.”

Berbagai komentar bermunculan tentang kenapa Ia tersenyum bahkan berterimakasih. Sebagian mengatakan itu terjadi karena Nenek Minah tidak paham, tidak pernah bersekolah, buta huruf, lugu, buta hukum, buta hak, bahkan buta bahasa sehingga tidak mengerti ketidakadilan yang tengah menimpa dirinya.

Tapi tidak demikian Saya melihatnya.

Tidak ada yang lebih mengerti dari Minah sendiri, bagaimana rasanya hidup di tanah yang kaya bagai surga, namun tidak pernah dapat cukup mencicipi manis hasil tanah air nya. Tidak ada yang lebih mengerti dari Minah sendiri bagaimana pahitnya menjadi petani buruh di lahan luas yang dikuasai oleh perusahaan besar. Tidak ada yang lebih mengerti dari Minah sendiri sulitnya hidup sebagai petani di negeri ini dimana tanahnya luas dan subur namun kesejahteraan petaninya terabaikan akibat ketidakjelasan arah pengembangan teknologi dan tidak konsistennya kebijakan pertanian. Tidak ada yang lebih mengerti dari Minah sendiri, bagaimana pedihnya bertahan hidup di negeri ini , agar tidak menjadi seperti ayam yang mati di lumbung padi.

Minah tidak bodoh, Ia tidak buta hak, Ia mengerti bahwa dirinya hidup dalam keterasingan diantara gegap gempita dan gemerlap kapitalisme yang melanda negerinya. Ia mengerti bahwa dirinya hidup disebuah tempat dimana hukum senantiasa berpihak kepada pemilik modal. Ia mengerti, namun Ia tetap tersenyum.

Bagaimanapun, sejarah manusia telah cukup bercerita akan fakta betapa manusia membutuhkan sesuatu yang transenden. Dalam kehidupan bernegara, Ketika keadilan dan kesejahteraan yang kerap dijanjikan elit penguasa terhadap rakyat kecil pada saat kampanye politik tidak juga terwujud ; Ketika kerja keras dan pengorbanan rakyat kecil tak kunjung memperoleh imbalan ; Ketika sistem dan kebijakan pembangunan tetap eksploitatif dan menekan kaum marginal ; Ketika pemerintahan semakin koruptif, sewenang-wenang, kesenjangan semakin lebar dan tatanan masyarakat yang adil belum juga tercapai kecuali nanti dan nanti ; Maka keadaan seperti inilah yang menyebabkan sakit dan pedih dihati manusia yang dunia tidak akan mampu mengobatinya. Pada kepedihan inilah Tuhan tidak tega. Dunia tidak akan mampu memikul beban individu yang sedemikian berat sebagaimana yang ditanggung oleh Minah. Ada sesuatu yang transenden dalam diri Minah. Itulah yang membuatnya tetap tersenyum.

Ya, Itulah kenapa dia tersenyum.

Bogor. 2010

Memiliki teman yang buruk adalah lebih baik daripada sendirian.

Tentu saja orang bisa berdebat panjang lebar mengenai itu, tapi John Steinbeck melalui  “Of Mice and Men” (1937) secara sederhana namun sangat apik, memberikan pelajaran suram tentang sifat alami manusia yang pada satu waktu merasa kesepian dan menginginkan kenyamanan seorang teman, tetapi seringkali terpaksa harus puas hanya dengan orang asing yang penuh perhatian.

“Of  Mice and Men” karya klasik yang sebenarnya sederhana tapi entah kenapa membacanya terasa mencekam dan setelahnya mengusik hati dan pikiran. Tentu saja itu berkat kepiawaian Steinbeck menceritakan kisah fiksi persahabatan dua lelaki pekerja yang terjadi saat The Great Depression melanda dunia.  

George dan Lennie harus berkerja keras setiap hari di peternakan majikannya dengan upah minim. Keduanya saling melindungi dan melengkapi kekurangan satu sama lain. Mereka bercita-cita kelak memiliki ladang dan peternakan sendiri serta rumah yang nyaman bukan lagi dengan tikus yang biasa menemani, tapi kelinci-kelinci.

Sayangnya kesulitan demi kesulitan terus datang dan mimpi mereka berdua menjadi semakin utopis. Persahabatan George dan Lennie yang sepanjang cerita digambarkan begitu mengharukan harus berakhir tragis ketika George semakin lama merasa hidupnya menjadi terhambat karena keberadaan Lennie.

Para lelaki dalam cerita ini sebenarnya berhasrat untuk bersatu membangun persaudaraan ditengah kehidupan yang keras dan sepi, mereka menjunjung tinggi persahabatan antara laki-laki sedemikian rupa. Namun dunia terlalu keras dan ganas untuk mereka dapat mempertahankan hubungan seperti itu.

Pada akhirnya, mereka saling menyakiti satu sama lain. Para tokoh dalam cerita tersebut : George, Lennie, Crooks, Curley, Carlson, Slim,  adalah orang-orang yang terasing dan tidak berdaya, namun bahkan pada saat yang terlemah, mereka berusaha untuk menghancurkan yang lebih lemah. Mereka saling memprovokasi, mempengaruhi, membuat sedih dan cemas satu sama lain.

Melalui Of Mice and Men, Steinbeck menggambarkan secara apik bahwa penindasan tidak hanya berasal dari yang kuat dan kekuatan yang paling jelas terlihat — yang digunakan untuk menindas orang lain — itu sendiri sesungguhnya terlahir dari  kelemahan (insecure).

Steinbeck juga menyiratkan salah satu kebenaran lain dalam kehidupan manusia yang sangat penting, bahwa hampir selalu pada akhirnya, yang akan benar-benar menyakiti seseorang itu, adalah orang terdekatnya sendiri.

Tapi benarkah memiliki teman yang buruk itu lebih baik daripada sendirian?

=========

Bogor, March 2020

HDW

catatan : John Steinbeck adalah penulis Amerika Serikat yang terkenal pada abad ke-20 dan memenangkan nobel sastra pada 1962.

Senandika dalam Dilema

Fiksi  berjudul “Dilema”, ditulis oleh Yuke Neza dan Arie Singawidjaya. Bagi saya, yang disebut terakhir sangat istimewa. Buku ini dibuka dengan mengutip Pramoedya Ananta Toer “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama Ia tak menulis, Ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah”.

“Dilema”   bercerita tentang rumitnya kisah cinta antara empat tokoh tapi disajikan dengan gaya yang cukup ringan sehingga kita bisa menikmatinya dengan santai saja. Sekilas alurnya  terasa aneh dan kadang terasa agak dipaksakan. Mungkin karena cerita itu ditulis oleh dua orang yang berbeda sambung menyambung bergantian.

Justru catatan kaki dalam novel tersebut yang membuat saya geleng-geleng kepala. Catatan kakinya terlalu berat ketimbang isi ceritanya, mengingatkan saya pada seseorang yang saya kenal sangat baik.

Salah satunya menjelaskan tentang “Senandika” atau Solilokui yang dilakukan para tokoh dalam cerita tersebut. Senandika artinya wacana seorang  tokoh dengan dirinya sendiri untuk mengungkapkan perasaan atau konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut. Senandika dikehidupan sehari-hari terjadi saat kita melakukan refleksi, kontemplasi, muhasabah atau introspeksi diri.

Selamat untuk Arie, kamu hebat luar biasa, telah berhasil merangkai ribuan aksara dan membukukan segala rasa.

==================

PS:

Maafkan jika aku terlalu lama. Pekerjaan yang harus kupelajari dan sayangnya,  aku tidak sepandai Arie. Begitu banyak buku yang ingin kubaca dan hal yang ingin kutulis tapi bertahun-tahun semua hanya tersimpan di almari.

Aku pernah berkata, kelak akan menyusulmu. Kita akan bersama bergandengan tangan menyusuri jalanan bersalju melewati pepohonan ditengah udara yang dingin membeku, sambil bercerita, tertawa-tawa, dan saling mengusap airmata  seperti dulu.

Namun seandainya itu tidak terjadi, aku hanya ingin kamu tahu, bahwa dalam hati dan pikiranku, kamu dan aku, kita berdua, akan selalu seperti itu.

=======

Bogor, March 2020

HDW

(BUKAN) MENUNGGU GODOT

Sejujurnya saya kurang bisa menikmati naskah yang ditulis Samuel Beckett, Waiting for Godot, tragicomedy in two acts (1949). Masterpiece yang ketika itu membuat saya penasaran, sebab seringkali diulas oleh para penulis hebat.

Bagi awam seperti saya, mengikuti dialog para tokoh dalam naskah tersebut terasa aneh dan menjemukan.

Begitu banyak hal dibicarakan oleh Vladimir dan Estragon, dua tokoh dalam cerita tersebut. Rupa-rupa, tak jelas. Dari mulai hal kecil tentang sepatu, wortel, sampai dengan filsafat teologi.

Begitu rumit, melompat-lompat dan campur aduk.

Tentu saja beberapakali saya tersenyum, pada bagian misalnya :

Saat Vladimir bertanya pada Estragon bagaimana rasa wortel yang Ia makan, dan reaksi kesal Estragon : “rasa wortel”

Atau pada sebuah percakapan yang absurd :

Estragon: Mungkin sebaiknya kita mengobrol.

Vladimir: tentang apa?

Estragon: Oh…tentang ini dan itu,  kukira, tidak ada yang khusus. Ya, aku ingat sekarang, kemarin malam kita menghabiskan waktu untuk mengobrol tentang hal – hal tak tentu. Itu sudah berlangsung selama setengah abad.

Atau ketika seorang anak datang dan terus menerus memanggil Vladimir  “Mr. Albert” tanpa ada penjelasan.

Mengikuti dialog yang berputar-putar, rasanya cukup memancing emosi, membuat kita penasaran kemana arah cerita ini sebenarnya?Bagaimana akhirnya?

Tentu ada makna yang ingin disampaikan Beckett dibalik setiap percakapan yang brilian. Tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan.

Dialog selama dua babak itu terjadi saat Vladimir dan estragon  sedang menunggu Godot.

Godot yang ditunggu, terus menerus disebut dalam dialog,  namun Ia tidak kunjung muncul.  Yang menunggu bahkan tidak tahu pasti, apa atau siapa sebenarnya yang ditunggu. Tapi seolah dengan terpaksa dan tidak ada pilihan lain kecuali menunggunya. Mereka terus bercakap-cakap dalam gelisah untuk mengisi waktu sembari menunggu Godot.

Absurditas itu yang semakin menjadikan Godot pusat perhatian, menunjukkan eksistensi dan kekuatannya memaksa Vladimir dan Estragon untuk tetap menunggunya hingga akhir cerita, namun Ia tidak pernah datang.

Situasi penantian ini agak mirip dengan kondisi sekarang. Saat seluruh dunia gelisah dan semua orang terus menerus membicarakan sesuatu, yang sebenarnya tidak seorangpun tahu pasti tentangnya, namun semua terus membahasnya dengan intensitas yang luar biasa dan menjalar kemana-mana.

Saat ini..

Semua gelisah,

Semua bercakap-cakap,

Semua menunggu,

Tapi bukan Godot.

======

Bogor, March 2020

HDW

WABAH


Kengerian itu dimulai pada akhir 2019 di Wuhan, Cina, ketika Li Wenliang seorang dokter muda disebuah rumah sakit menyampaikan kegelisahannya akan kemunculan virus misterius yang menular sangat cepat. Ia memperingatkan koleganya agar berhati-hati. Namun dengan cepat polisi Wuhan membungkamnya dan menuduhnya “menyebar rumor” sehingga Ia pun berhenti bersuara.

Medio Maret 2020, Virus Corona atau COVID-19 yang ditemukan oleh Li Wenliang telah menjadi pandemic yang melanda seluruh dunia, menginfeksi  214.894 manusia dan membunuh 8.732 jiwa.  Dr. Li Wenliang, sang peniup peluit pun ikut terjangkit. Ia meninggal dunia pada 7 Februari 2020 dalam usia 34 tahun, meninggalkan seorang anak dan istri yang sedang hamil.

Kemarin hantu itu masih terasa begitu jauh.

Kini Ia benar-benar sudah tiba disini dan terasa begitu dekat, menjangkiti satu persatu orang di kota ini.

Jika beruntung melewatinya, suatu saat nanti saya akan membaca tulisan indah yang terinspirasi cerita tragis Li Wenliang seperti La Peste karya Albert Camus yang bercerita tentang kisah heroik seorang dokter ditengah ganasnya wabah Pes, atau yang berbalut romansa, sebagaimana dituliskan Gabriel Garcia Marquez dalam karyanya yang monumental, Love in The Time of Cholera yang sangat manis dan mendebarkan.

Jika berhasil melewatinya, di suatu pagi, di balkon yang asri dengan bunga bugenvile putih  bermekaran,  burung-burung gereja berkicau melompat-lompat di ranting pohon belimbing, masih akan kudengar lelaki yang melantunkan ayat – ayat suci dan dua gadis lembut rupawan bercengkrama dihangatnya cahaya mentari.

حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

======

Bogor, March 2020

HDW

COORDINATIONG

“Everyone’s always ‘just joking,’ right? Except when they’re not.”
― Kawai Strong Washburn, Sharks in the Time of Saviors

I am currently working as a speechwriter. Every time an event was going be held, people from so many divisions contacted asking for the remarks draft to be read in the opening session.

That Monday, a gentleman texted “hello, can I have the remarks draft for Wednesday, can I also have information the official assigned for the opening ceremony?”

I have never heard about the event. There was no information sent to me.

So I asked, “excuse me, what event? I’ve never been informed, have you send the notification letter?”

He answered “Sure, I will send you the letter when it’s ready, but now it is still being processes in our division. Thank you”

I stunned a second to digest his words, and then :
Bursting into seemingly endless laughter.

Wow, Dude. That is seriously funny.

How do I suppose to even know if the notification hasn’t even been send?

“Houston, we have some coordination issues here.”

=====================================

Bogor, March 2020

Hesty Dharmanita

PROLOG KEDUA

Prolog

I’ve missed the train, did’nt have a clue

I love  the rain and how about you.  

Betapapun bagusnya sebuah tulisan, baik dan benar secara struktur dan kaya akan terminologi dan kosa kata, akan tetap buruk, jika tidak mudah dimengerti. Seperti semua catatan di telaga ini, hampir semuanya sebening lumpur.

Bagi sebagian orang ini tentunya jelek.  Tapi mumgkin tidak terlalu buruk bagi yang familiar dengan  iceberg principle.

There is seven-eighths of it underwater for every part that shows…and it only strengthens your iceberg. It is the part that doesn’t show *)

Tidak menjadi masalah karena disini menulis hanya untuk  kesenangan sendiri dan tidak terlalu peduli apakah orang akan mengerti . Di 2013 saya berhenti menulis, ketika terus dihadapkan dengan regulasi, OCP dan dokumen kesepakatan perdagangan internasional yang penuh detil dan kodifikasi dan tidak ada ruang sama sekali untuk berimajinasi.

Ketika itu puisi pun berganti. It was no longer roses are red and violets are blue but more like :  tariffs are red, tariffs are blue,  If there’s a product requirement Notify me and I’ll notify you **)

And now that I start writing again, but this time is totally different. I wrote for people and bureaucracy. It was’nt easy and I am still trying to figure it out, rather than Hemingway now I take a little bit of Lincoln’s way  :

“When I get ready to talk to people, I spend two thirds of the time thinking what they  (should) want to hear and one third thinking about what I want to say.” ***)

Epilog

Hampir 2 bulan  hujan masih terus  turun dengan derasnya.

Kukatakan pada Jane, bahwa hari-hari berlalu seperti puisi.

Dia menatapku seolah aku gila, lalu berkata :

Jurusanku sosiologi.

………………………..

Bogor, Feb 2020

HDW

Quotes from.

*) Ernest Hemingway **) WTOV ***) Abraham Lincoln

Feb, 2020, saat hujan di ruang kerja baru 🙂