Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

“Semua yang terjadi di dunia dimaksudkan untuk tujuannya yang terbaik.”

Penulis mengutip sebuah frase yang terdapat dalam satire berjudul ‘”Candide” karya Voltaire. Saat Candide, lelaki lugu dan baik hati yang menjadi tokoh utama dalam karya tersebut, merasa resah dan bertanya pada gurunya akan hakikat nasib sial yang terus menerus menimpanya.


“Tentu saja ada rangkaian peristiwa dalam dunia yang terbaik ini. Pertimbangkan saja, seandainya kau tidak ditendang keluar dari kastel indah itu karena mencintai nona Cunegonde, seandainya saja kau tidak dihukum oleh inkuisisi, seandainya kau tidak melakukan perjalanan sepanjang Amerika berjalan kaki, seandainya kau tidak menusuk Baron, seandainya kau tidak kehilangan dombamu yang kau peroleh di negeri impian El- Dorado – maka kau tidak akan berada disini sekarang, makan manisan sitrun dan kacang pistachio.” Begitu Sang Guru dr. Pangloss, seringkali berkata pada Candide.


Voltaire (1694 –1778) bernama asli Francois Marie Arouet adalah filsuf Perancis yang sangat brilian pada abad ke-18. Melalui ‘Candide”, Ia menggugat Filosofi Optimisme (terhadap kehendak Tuhan) yang mengatakan bahwa semua bencana dan penderitaan manusia adalah bagian dari rencana kosmis yang baik hati.

Filosofi Optimisme yang digugat Voltaire, melalui satire-nya itu, merupakan perkara filsafati yang tidak pernah selesai diperdebatkan dalam sejarah umat manusia yaitu mengenai hakikat kehendak Tuhan terhadap mahluknya. Dalam khasanah Ilmu Kalam di dunia Islam, konsep tersebut telah dikenal sejak lama dalam berbagai bentuk paham teologi Dialektika. Diantaranya konsep “Al – Shalah Wa`l Aslah”, salah satu hasil pemikiran kaum Mu`tazilah (qadariyyah) yang menyatakan bahwa “ Semua perbuatan Tuhan, tidak lepas dari manfaat dan kemaslahatan. Tuhan tidak menghendaki sesuatu kecuali bermanfaat bagi manusia, bahkan Ia mesti menghendaki yang baik dan terbaik untuk kemaslahatan manusia.”

Abu al-Hasan ‘Ali Al-Asy’ari (873 M-935 M) merumuskan pemahamannya sendiri mengenai hakikat kehendak Tuhan : bahwa tidak ada kebaikan atau keburukan di bumi kecuali yang dikehendaki Allah, dan segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah (Q., 81:29), Manusia harus berusaha namun mereka tidak memiliki pada diri mereka sendiri (memberi) manfaat atau madarat, kecuali dengan yang dikehendaki Tuhan. Al-Asy’ari, seperti Mu’tazilah, meyakini bahwa Tuhan adalah Maha Adil. Tetapi seperti kaum Salafi, ia menolak mewajibkan Tuhan untuk mewujudkan yang terbaik. Dan masih banyak lagi konsep-konsep mengenai hakikat keadilan yang mencerminkan hubungan antara Tuhan dan manusia dalam Teologi Dialektika, termasuk pemikiran para pembaharu seperi Ibnu Taymiyyah dari mazhab Salafi atau Muhammad Abduh, namun terlepas dari sengitnya perdebatan internal antara berbagai paham tersebut, seluruhnya sudah barang tentu tetap merupakan refleksi atas keyakinan dan kepasrahan terhadap kekuatan yang transenden dan Maha Adil. Sebagaimana dikatakan Ibn Taymiyah, “Pangkal agama adalah Al-Islam (sikap pasrah), meskipun syari`atnya bermacam-macam.”


Relevansinya ialah bahwa sebagian besar warga negara Indonesia beragama Islam dan menganut paham Asy’ari di bidang teologi. Kita seringkali mendengar dalam setiap percakapan masyarakat di Indonesia manakala seorang tertimpa musibah berbagai ungkapan yang menandakan penerimaan seperti:

“Tuhan Maha Tahu yang Terbaik bagi Hambanya.”

“Segala sesuatu diciptakan ada tujuannya, setiap kejadian pasti ada hikmahnya.”

“Segala sesuatu berasal dari Tuhan dan Kembali pada Tuhan.”

“Ini merupakan Takdir yang harus diterima.”

Ketika seorang terkena kecelakaan lalu lintas dan kehilangan kedua kakinya , maka Ia masih bisa bersyukur karena masih memiliki tangannya ; ketika seorang kehilangan seluruh hartanya, maka Ia masih bisa bersyukur karena tidak kehilangan nyawanya. Ketika seorang dieksploitasi dan dikorupsi hak-nya oleh pihak lain , maka Ia masih bisa bersyukur bahwa memang sudah sebegitulah takaran rezekinya. Dan ketika seorang tertimpa bencana alam yang merenggut keluarganya, melenyapkan harta dan menghancurkan tempat tinggalnya, maka Ia masih bisa bersyukur dirinya masih bisa selamat dan menerimanya sebagai kehendak Tuhan.

Para penganut agama – dalam hal ini Islam – selalu mempunyai kemampuan untuk lebih sabar dan mengambil kebaikan (hikmah) dari suatu keadaan yang paling buruk sekalipun yang menimpanya.

Lalu apakah yang salah dengan pemahaman yang disebut Voltaire sebagai Filosofi Optimisme (terhadap kehendak Tuhan) ini, sehingga Ia mengkritik dan memperoloknya habis-habisan melalui karya satire –nya yang berjudul “Candide”?

Sikap sabar dan pasrah kehadirat Tuhan merupakan ciri umat beragama. Tidak ada agama tanpa sikap pasrah. Namun demikian, dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat dimana kerap terjadi praktik – praktik ketidakadilan terhadap kaum marginal yang berlangsung secara terus menerus, kesabaran lebih banyak disalahartikan dan direduksi maknanya menjadi kesabaran untuk menerima keadaan dan bukan kesabaran dalam berjuang melakukan perbaikan sistem psiko – sosio – ekonomi yang lebih adil.

Ketundukan pada Kehendak Tuhan lebih banyak diartikan sebagai penyerahan diri secara pasif kepada kemauan Tuhan. Kondisi tidak adil yang sulit dirubah, membuat individu frustasi dan menjadi fatalis. Sikap inilah yang melanggengkan status quo dan menjadikan umat kehilangan atau lemah daya kritisnya terhadap praktik-praktik ketidakadilan yang dilakukan oleh negara.

Padahal jika ketundukan pada kehendak Tuhan diartikan secara pasif, Tuhan tidak akan memerintahkan manusia untuk berbuat kebaikan dan mencegah dari perbuatan tercela, Tuhan tidak akan memerintahkan manusia untuk bertindak adil dan memerangi kezaliman, dan jika Tuhan memaksakan kehendak-Nya pada manusia, maka konsep pahala dan dosa tidaklah berlaku.

Keyakinan, kepasrahan, optimisme dan kesabaran merupakan hal yang fundamental dalam dakwah Islam. “Allah mencintai orang-orang yang sabar.” Kata Al-Qur`an. Namun kesabaran ini jangan disalahartikan sebagai kesabaran dan kepasrahan untuk menerima keadaan secara pasif, melainkan kesabaran dalam upaya melakukan perbaikan untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang berkeadilan, disertai optimisme bahwa Tuhan kelak akan berkehendak mewujudkannya setelah upaya dan perjuangan manusia baik secara individu maupun kolektif yang sungguh-sungguh.


Kita tidak dapat menutup mata terhadap sederet fakta permasalahan yang tengah melanda negeri yang sejatinya kaya akan Sumber Daya Alam ini : berbagai kasus korupsi, ketidakadilan hukum, mafia peradilan, illegal logging, penggelapan pajak, sempitnya lapangan pekerjaan, kemiskinan, minimnya layanan kesehatan, tingginya tingkat kematian ibu dan bayi, gizi buruk, rendahnya kualitas pendidikan, kerusuhan dan konflik sosial, dan seterusnya. Ditambah lagi dengan model kebijakan pembangunan yang eksploitatif tanpa kearifan ekologi, telah menyebabkan kerusakan lingkungan hidup seperti : kerusakan hutan, hancurnya wilayah tangkapan dan Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai sumber pemasok air bersih, pencemaran udara pada tingkat yang membahayakan, hancurnya wilayah pesisir, sehingga menyebabkan meningkatnya jumlah bencana ekologis seperti : banjir, longsor, gagal panen, gagal tanam, dan kebakaran hutan termasuk semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo.

Betapa dibutuhkan kesabaran seluas samudera untuk menghadapi berbagai fakta pahit tersebut. Struktur psiko – sosio – ekonomi yang bersifat tidak adil haruslah dikoreksi melalui upaya yang sungguh-sungguh.

Mereka yang memiliki Ilmu dan wewenang, dapat merubah kemungkaran dengan tangannya (tindakan) ; Mereka yang memiliki Ilmu tapi tidak memiliki wewenang dapat merubah kemungkaran dengan lisannya (wacana) ; Mereka yang tidak memiliki ilmu dan tidak pula memiliki wewenang dapat membenci kemungkaran dalam hati sambil tetap meningkatkan partisipasi politiknya.

Upaya inilah yang tidak mudah dan membutuhkan keyakinan, kesabaran dan optimisme yang luar biasa. Agama – dalam hal ini Islam – hadir untuk menyelamatkan, membela dan membebaskan manusia dari kondisi – kondisi ketidakadilan.

Ini dapat dilihat dari begitu banyak ayat Al-Qur`an yang memerintahkan manusia untuk berbuat adil dan menentang kezaliman. Begitu banyaknya ayat Al Qur`an yang secara langsung ataupun tidak langsung menggugat kondisi ketidakadilan yang terjadi ditengah masyarakat, bangsa dan negara.

Kesabaran dan optimisme yang menerima kondisi mapan itulah yang merupakan candu sebagaimana digugat oleh Voltaire melalui candide, sedangkan kesabaran dan optimisme dalam upaya menciptakan perubahan sosial akan menjadi kekuatan psikologis yang luar biasa dalam perjuangan mewujudkan tatanan masyarakat yang berkeadilan.

Voltaire menyadari hal-hal buruk yang ada di dunia, namun itu tidak menyebabkan Ia menampik hidup. Ia tidak putus asa, bunuh diri atau menjadi fatalis. Ia menggugat filosofi optimisme bahwa “Semua hal yang terjadi di dunia ini adalah untuk tujuan yang terbaik” namun gugatan itu juga tidak menyebabkannya menafikan yang transenden.

Voltaire percaya adanya Tuhan. Tapi Ia juga percaya pada usaha manusia untuk memperbaiki nasibnya sebagaimana dipertegasnya dalam novel Candide. Melalui Candide, Voltaire membuat kita tertawa geli, namun justru pada kalimat pendek terakhir yang menutup novel satire itu, Voltaire mengusulkan suatu jalan keluar yang sangat serius, sekaligus praktis dan membumi, yaitu saat super-optimis Dr. Pangloss berusaha meyakinkan Candide bahwa “Dunia ini adalah yang terbaik dari semua yang mungkin didapat” dan Candide pun menjawabnya : “Pemikiran yang bagus. Tapi Ayo, kita harus menggarap kebun ini.”

Hesty Dharmanita Wianggawati

Read Full Post »

Gula – Gula

Sebuah toples terisi penuh gula – gula

Seolah mengajak lidahku berdansa

 

“Maaf. Aku punya Gula. “

 

Ia merajuk mesra.

“Sedikit saja.. ” Bisiknya manja..

 

Gula – gula warna warni

Sangat menggoda hati ..

 

Seandainya itu adalah Ikan

Dan aku seekor kucing ..

Pasti gula – gula

Sudah kujilati dan kulumat habis

 

Tapi itu gula – gula , bukan Ikan.

Dan aku, bukan kucing.

 

“Maaf. Aku punya gula.”

 

 

***.

Bogor, April 2011

Read Full Post »

NEGERI PELANGI

Malam itu Ia tidak banyak bicara, lebih banyak diam, memandangi langit – langit  kamar.  Saya segera menutup buku dan menghampirinya lalu bertanya kenapa Ia  tidak banyak mengoceh seperti biasanya, apa yang tengah Ia pikirkan.

Adlina Widad (4 th), memeluk saya dan dengan sedih balik bertanya, kenapa semua manusia pasti mati?  Lalu ia berkata :  tidak ingin mati, dikubur dan disiksa Tuhan.

Saya tidak terlalu terkejut. Pada usia 3 tahun Ia berkali – kali bertanya : Jiwa itu apa, Jiwa adanya dimana,  Jiwa bentuknya seperti apa dsb. Hal – hal demikian sepertinya sangat menarik baginya dan sedikit mengherankan pada awalnya, mengingat saat itu Ia masih batita.

Saya pun menjelaskan padanya tentang manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa. Kehidupan tubuh sangat sebentar, bisa jadi jelek, tua, sakit, membusuk dan mati. Saat tubuh rusak dan mati maka tubuh dikuburkan. Tubuh mati tapi jiwanya yang indah lepas, kelak terbang ke negeri pelangi yang abadi. Di negeri pelangi kelak jiwa kita akan bertemu dengan Tuhan, malaikat, para nabi dan orang- orang yang kita sayangi. Semakin kita banyak berbuat baik, jiwa semakin indah dan perjalanan menuju negeri pelangi akan semakin mudah. Itulah kenapa kita harus selalu berusaha berbuat baik pada orang tua, teman, guru, semua orang disekeliling kita termasuk hewan dan tumbuhan.

Bahwa siksa kubur memang ada dan akan menimpa orang-orang yang keji dan tidak mau bertobat, kita harus percaya. Tapi Tuhan bukanlah maha penyiksa yang kejam dan mengerikan. Tuhan Maha Baik, Maha Agung, Maha Penyayang dan tidak mungkin merasa perlu menyiksa hambanya : Manusia itu tidak ada yang sempurna dan pasti berbuat  salah. Tuhan sangat mengasihi dan menyayangi hambanya, Maha lembut, Maha Pemaaf  dan Maha Kuasa. Sifat –sifat Tuhan sangat lah indah.

Penjelasan sederhana dan disertai beberapa shortcut itu, saya kira jauh lebih sesuai terutama untuk anak seusianya. Sepanjang saya menjelaskan, Ia menyimak dengan seksama dan terlihat begitu takjub, hingga akhirnya tersenyum lega.

Begitu banyak cerita – cerita tentang siksa Tuhan yang teramat dahsyat dan tak tertanggungkan di masyarakat. Sungguh saya tidak ingin Ia menjadi terasing dari proses yang membentuk dirinya karena pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab terus menerus menanamkan rasa horor  terhadap Tuhan dalam dirinya.

Biarkan ia tumbuh dan berkembang dengan penuh kerinduan pada negeri pelangi, pada keindahan yang maha indah. Keimanan tumbuh, lebih disebabkan oleh rasa kerinduan dan kebutuhannya terhadap Tuhan, bukan ketakutan.

Adlina putriku, dengan caranya sendiri, kelak akan menemukan : Hidup ini hanya sekejap mimpi, memang bukan disini tempatnya mencari kebahagiaan hakiki, karena ini bukan negeri pelangi.

Bogor, Februari 2011.

Hesty Dharmanita W

Read Full Post »

 

“What`s in a Name” , demikian Shakespeare dalam karyanya Romeo and Juliet yang termansyhur. “That which we call a rose by any other name, would smell as sweet.*)

Bagi Issabella kawan saya, mungkin segalanya.

Sebuah “nama diri”  tidak saja mengandung doa, namun juga menimbulkan nalar dan rasa**).  Issabella mendeskripsikan sosok perempuan,  terasa seperti bunga,  gula,  atau segala sesuatu yang manis.

Issabela, drummer yang disegani dikalangan pemusik di kota saya karena kepiawaiannya memainkan perkusi. Ia anak ke-4 dari 5 bersaudara, yang terdiri dari 4 laki-laki dan 1 perempuan. Ketiga kakaknya adalah laki-laki. Setelah kelahiran putra ketiga, almarhum Ayahanda Issabel sangat mendambakan anak perempuan. Maka, saat anak keempatnya lahir, tanpa ragu dinamainya bayi itu : Issabella.

Meskipun ia laki-laki, sebagaimana ketiga kakaknya.

Peristiwa tersebut konon merupakan bentuk protes ayahanda Issabella, yang beberapa tahun kemudian dijawab Tuhan dengan dilahirkannya seorang anak perempuan. Namun, dapat dibayangkan implikasi sosial psikologis yang harus dialami Issabella kecil hingga Ia cukup dewasa untuk  bisa  menerima dengan lapang dada nama yang diberikan orangtuanya.

Berbagai studi menyatakan :  terdapat relasi kuat antara nama diri  dengan identitas manusia. Sebagai contoh : Saat face to face, secara intuitif seorang cenderung akan memperkenalkan dirinya dengan berkata “ Saya Issabella” bukan “Hai, nama saya Issabella”. atau saat memperkenalkan seseorang pada keluarga kita : “ Ibu, perkenalkan ini Issabela.”  Bukan :  “Ibu, perkenalkan orang ini bernama Issabella.”

Hal ini menunjukan bahwa manusia secara intuitif mengasosiasikan identitas dirinya atau orang lain dengan nama diri dan betapa penting arti sebuah nama diri bagi individu maupun lingkungan sosial serta efek yang dapat ditimbulkan sebuah nama bagi dirinya atau anak-anaknya. Itulah kenapa, setiap kita perlu menyadari, tentang aspek psikologis, historis, hukum, etnik, magis, dan religius dari sebuah nama.

Karena sebuah nama, tidak pernah hanya sekedar nama.

 

 

Bogor, Februari 2011

Hesty Dharmanita W

=================================

 

note :  Please Guys, Dont  Try This, At Home. 😉

 

 

*) William Shakespeare, Romeo and Juliet, (1564 – 1616)

**) John Stuart Mill. A System of Logic

Read Full Post »

TUBUH

Jiwa jauh lebih unggul daripada tubuh. Sementara Tubuh tetap di bumi, pikiran manusia mampu melesat jauh menembus langit.

Demikian, kaum esensialis yang kebanyakan para filsuf dan teolog cenderung mencela tubuh dalam pikiran-pikiran mereka yang cemerlang. Memandang tubuh sebagai musuh dan penjara bagi jiwa, mengagungkan kekuatan pikiran dan mengabaikan keberadaan tubuh.

Konflik antara tubuh dan jiwa telah berlangsung sepanjang sejarah keberadaan manusia, setua pertikaian antara surga dan neraka.

Anthony Synnott dalam The Body Social : Symbolism, Self and Society 1993 menyatakan hiper – intelektualisme tradisi kultural barat secara historis mengistimewakan jiwa atas tubuh karena pada kenyataannya, kebanyakan manusia memang kerap kesulitan dalam menghadapi keinginan dan nafsu tubuhnya. Sebagian kecil mampu bertahan memperlakukan tubuhnya sesuai dengan norma dan ajaran agama mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, sebagian lain kerap tak berdaya dan memilih memuaskan segala hasrat tubuhnya sekalipun bertentangan dengan nuraninya.

Itulah kenapa jauh – jauh hari Plato menekankan bahwa tubuh dan jiwa bukan hanya terpisah melainkan keduanya bertentangan dan tidak sama. Menurutnya, hanya dalam kematian saja, jiwa dapat dibebaskan dari keinginan dan nafsu jahat tubuh.

Adapun, Freud menggambarkan konflik pemuasan keinginan tubuh dalam bentuk konflik alam bawah sadar antara Id, super-ego dan ego, dan pertikaian antara ketiganya bahkan dapat menyebabkan penyakit jiwa tertentu.

Terlepas dari konflik tubuh dan jiwa, manusia memang cenderung kurang menghargai keberadaan tubuhnya. Pertama, jika Ia tidak dipandang sebagai penjara atau musuh dimana setiap keinginan biologisnya adalah dosa ; yang kedua, tubuh diabaikan, disalahgunakan dan diperlakukan seenaknya – kesehatan dianggap wajar dan kesempurnaan tubuh yang sesungguhnya merupakan suatu keajaiban medis, dipandang sebagai sesuatu yang biasa.

Sungguh tragis, bahwa kebanyakan orang harus jatuh sakit dahulu sebelum mereka memahami betapa berharganya tubuh itu. Tubuh tidak pernah benar-benar diperhatikan hingga akhirnya terjadi perubahan-perubahan pada tubuh secara tiba-tiba, mengalami sakit atau tubuh terancam kematian.

Justru pada saat itulah manusia memahami hakikat keberadaan tubuh dan jiwanya secara bersama-sama di dunia. Tubuh dan jiwa saling menyadari keberadaannya satu dengan yang lain dan betapa mereka saling membutuhkan untuk dapat tetap berfungsi dengan baik. Menyadari bahwa tubuhnya bukanlah musuhnya, bukan pula obyek untuk diperlakukan semena-mena, tapi sebagaimana Al- Ghazali : Tubuh adalah kendara jiwa untuk menorehkan baik buruk catatan keberadaan diri ; adalah kendara jiwa, untuk mendekatkan diri kita kepada Sang Khalik atau menjauhkannya.

By : HDW

Catatan :

Dalam hal ini pikiran merupakan bagian dari jiwa – namun beberapa sarjana membedakan antara jiwa dan pikiran.

 

Read Full Post »

ISTIRAHAT

TERIMAKASIH BANYAK ATAS KUNJUNGAN SOBAT BLOGGER KE TELAGA SUNYI, UNTUK SEMENTARA WAKTU SAYA HARUS ISTIRAHAT DARI AKTIVITAS TERMASUK BLOGGING DIKARENAKAN SESUATU HAL. IM GONNA MISS YOU ALL AND HOPE TO BE BACK SOON. THANKS SO MUCH, EVERYONE..

Read Full Post »

BRIGO

Telah kau tempuh perjalanan yang panjang

Demi sebuah tiba yang tak kunjung ada

.

Dari hiruk pikuk kota

Hingga ke Hutan Sunyi

Dari Taman-taman indah

Hingga ke padang tandus

.

Dengan kesedihan dan senyuman

Yang mengiringi  setiap langkah

Dan Pergulatan tak berkesudahan

Tentang mimpi dan Kenyataan

Tentang kehidupan dan kematian

Tentang Cinta dan perpisahan

.

Brigo ..

.

Tataplah kedua mataku dan dengarkan ini

.

Kelak akan Tiba

Dimana Kesedihanmu Berubah Menjadi Gelak Tawa

Airmata menguap dan turun kembali menjadi Bulir -Bulir yang Menyejukkan

Dan Kau akan bertemu dengan Cinta

Pengantinmu  yang Lembut dan Jelita

.

Semoga Kau Selalu Percaya

Semoga Kau Tidak Lupa

Bahwa Kau Istimewa

.

Brigo..

.

Aku Berdoa Untukmu

Untuk Cinta yang selalu kau dambakan

Matahari yang selalu Bersinar Terang

Malam – malam yang Cerah dan Bercahaya

Tawa, canda dan kedamaian dalam kehidupanmu

Dan Untuk segala Keberkahan yang  Bergemerincing  Mengikutinya.

***

Bogor, September 2010

Hesty Dharmanita W

Read Full Post »

ZARA

Kota Hujan, 1994.

Bis- bis Pariwisata berderet memenuhi Jl. Kartini No. 16 Bogor.  Hari itu sekolah kami akan karyawisata. Ratusan murid dan guru-gurunya sudah naik ke dalam bis namun rombongan tidak kunjung berangkat, disebabkan salah satu murid yang belum datang Zara Fee, temanku sebangku saya.

Saya duduk dengan gelisah. Tempat duduk sebelahku kosong. Sang wali kelas mondar mandir diatas bis. “Gimana, ini sudah telat 30 menit . Coba Ibu minta nomor telpon rumahnya.”

Bu Guru bergegas turun dari bis untuk menelpon Zara, namun selang beberapa menit Ia kembali dengan wajah merah padam. Dan langsung memerintahkan rombongan segera berangkat.

Saya panik, murid lain bergumam tak jelas.  Mungkin sebentar lagi bu.”

Bu Guru menghampiriku dan berkata “ BARUSAN IBU TELEPON KERUMAH ZARA, DIA BARU BANGUN TIDUR!! “ katanya kesal.

Saya terbelalak kaget. Anak itu, mana mungkin dia lupa hari sepenting ini.

Bu guru melanjutkan, “Dia sendiri yang angkat teleponnya. Baru bangun tidur dan malah tanya – ‘Karyawisata? Karyawisata apa bu?”

Saya terduduk lemas nyaris tak percaya.  Semalam kami bicara panjang lebar di telepon tentang hari ini, dan saya mau menunjukan padanya sepatu baru, yang akhirnya kubeli semalam setelah susah payah  –

Bagaimana mungkin karyawisata ini berjalan tanpa dia.

Bis mulai bergerak. Tiba – tiba  sosok yang amat saya kenal terlihat berlari kecil dari balik tikungan. Murid-murid kontan berteriak “Zara! Bu, itu Zara! Itu Zara!”

Zara naik keatas bis, Bu Guru memandanginya kebingungan. Rumah Zara sangat jauh dari sekolah dan Ia baru saja bicara dengannya via telepon rumah.

Sambil cengengesan, anak itu berkata : “ Bu, saya dirumah saya ada 4 anak yang semuanya nama depannya Zara : An, Fee, Sa dan Aqm.

=============================================

I forgot to tell that to the teacher .

==================================================================================== .

20 Years Friendship.

Read Full Post »

Kabar Sederhana

“Kabarilah aku, Raina. Kamu pasti tahu kan, aku pasti selalu senang mendengar kabar apapun darimu.”

Demikian Jim berujar dalam sebuah percakapan mereka yang langka.

Raina merasa konyol, merasakan situasi tragedi komedi yang sedang terjadi diantara mereka.

Yang benar saja,  Jika memang persoalan komunikasi itu begitu sederhana, tentunya kamu pun tidak akan begitu beratnya untuk mengabariku tentang dirimu.

Kamu tahu, aku pun pasti akan selalu senang mendengar kabar apapun darimu.

Kita sama ingin saling mengabari satu sama lain,  Tapi kenyataannya itu tidak kita lakukan, bukan?

Kenapa?

Sebab segala sesuatu tentang kita takkan pernah sederhana,  sekalipun itu hanya sekedar kabar  sederhana.

=

Bogor, August 2010

Read Full Post »

PAGI KEMARIN

MONDAY
Raina : “Hi, Bagaimana Kabarmu hari ini, Jim?”
Jim : “Aku baik, luar biasa? Kamu?”
Raina : “Wow, thats great. Aku juga baik. Never better than this!”
Jim : “Wow, thats great!”

TUESDAY
Jim : “Goodmorning, how are you? i wish you a good day
Raina : Im Fine, thanks 😀 I wish you a very good day too

WEDNESDAY
Jim : “How is it goin Rain? Kamu sehat kan? Im so busy today , sorry nih baru sempat menemuimu hehehe.
Raina : “ it s fine Jim, Im busy too, but i feel so fine
Jim : have a nice day !
Raina : Yeah, thanks , You too. I wish you a very fine fine day.

THuRSDAY
Raina : “Allohhaaaa goodmorning, I wish a happy happy day for you.”
Jim : “ Wow, thanks, I wish a happy day for you too”

FRIDAY
Jim : gimana kabarmu pagi ini, semoga semua berjalan lancar ya, have a god day
Raina : Hi Jim, Im Fine,  Im so ready for this life, new job, new challenge
JiM : “wow, thats great , I wish you goodluck then
Raina : Thanks, You too.

SATURDAY
Jim : Hi there, Have a nice Weekend! 😀
Raina : Thanks,  Have a nice weekend to you too

SUNDAY
Raina : Have a nice sunday Jim
Jim : Hi, having fun today
Raina : Yeah, sure I will,  you too
Jim : I am having fun  😀
Raina : Thats great , have a nice sunday again

=======================================.
MONDAY

JiM : Good morning, Rain.. how s ure weekend, i bet it was great , Wish u have a nice day

======================================= .

Beranjak menyusuri jalan setapak yang mengarah ke tepian sungai Citiis.
Merasakan sinar mentari pagi menerobos celah-celah pepohonan
Menyirami kulit tubuhnya dengan kehangatan yang damai dan berkilauan.

Raina menghela nafas lalu ditekannya tombol Off.

..

Read Full Post »

PRASASTI

Sebuah Prasasti

Yang mengisahkan
Tentang Cinta dan Luka
Tawa dan airmata

Yang menuliskan
Pertemuan dan Perpisahan
Kebahagiaan dan Kepedihan

Yang menandakan
Sejarah Keberadaan

Dan Mengabadikan
Suatu Kehidupan

Diukir begitu dalam oleh cinta dan ketulusan hati
Disaksikan langit dan bumi
Membentuk simbol kehidupan sakral abadi

Read Full Post »

SeNaNdUnG

Tidakkah Kau mendengar

Ia menangis  ..

Disela kabut dingin menelisik

Monyet berloncatan pada dahan yang gemerisik

Tidakkah Kau mendengar

Ia meratap..   pilu mengusik..

Jiwa yang tersiksa

Hati yang merana..

Lirih memanggil

Dalam ratapan  yang  menyayat hati

Terus memanggil..

Dan memanggil

Nama-Mu..

Dalam senandungnya

yang tak terperi ..

Tidakkah Kau mendengar ..

Read Full Post »

KELAS DUA

Kapitalisme kesehatan tengah merajalela di negeri ini. Kita semua merasakan, Rumah Sakit yang seharusnya lebih banyak berfungsi sebagai agen kemanusiaan telah menjelma menjadi pasar dimana status kesehatan ditentukan oleh status sosial dan kepemilikan modal. Segala sesuatu di Rumah Sakit dinilai dengan uang, bahkan untuk sekedar perlakuan yang ramah dan manusiawi dari paramedisnya.

Benarkah kapitalisme telah sedemikian merajai seantero kehidupan sehingga tidak ada lagi harapan untuk sesuatu yang tidak diukur dengan uang dalam interaksi antar manusia di sana ?

Sebagian mungkin benar, tapi tidak seluruhnya.

Pada 21 Mei 2009, saya meregang di ruang kelas dua di sebuah rumah sakit di Bogor, saat melahirkan putri kedua saya : Sofia
Saya berada dikelas II karena demikian fasilitas Askes yang saya miliki. Kelas Dua berarti selama proses kelahiran tidak diperbolehkan untuk ditemani oleh siapapun, kecuali paramedis. Tentu saja, melahirkan dengan didampingi oleh seorang dari keluarga adalah sesuatu yang ideal, sebab hasil penelitian membuktikan bahwa Ibu yang melahirkan dengan didampingi oleh orang terdekatnya maka akan jarang mengalami depresi pasca-salin (post partum blues) dan proses kelahirannya akan lebih lancar, cepat dan juga berpengaruh pada nilai APGAR bayi yang lebih baik. Tetapi sayang, itu hanya bisa didapat di Kelas Satu, yang artinya harus naik kelas dan membayar lebih mahal lagi.

Kita semua tahu, ambang sakit setiap manusia berbeda, tergantung anatomi dan kondisi tubuh tiap manusia, Ada ibu yang melahirkan tanpa merasa sakit atau sedikit sakit, namun pada persalinan kedua ini, saya merasakan sakit yang luar biasa. Sakit yang saya gambarkan sebagai sakit fisik yang paling menyakitkan yang pernah mendera saya. Namun Saya tetap berkeyakinan untuk bisa melahirkan secara normal dan terus menjalani proses nya. Hingga tiba pada suatu titik dimana saya merasa begitu membutuhkan empati dan simpati yang hal itu sama sekali tidak bisa diharapkan dari paramedis ruang kelas dua.

Ketika tengah meregang menahan sakit, seorang perempuan petugas pembersih bolak balik di ruang itu, Membereskan meja, menyapu, mengosongkan tempat-tempat sampah. Saat Ia menghampiri meja di samping tempat tidur saya, Saya yang tengah merasakan puncak rasa sakit serta merta menyambar dan mencengkram lengannya. Lalu saya memandang wajahnya dan berkata memohon sembari menangis menahan sakit “Ibu, tolong bu, Tolong temani sebentar, jangan pergi. “ Demikian saya meminta pada petugas pembersih itu.

Ini bukan cerita imajinasi. Petugas Pembersih itu yang menemani saya hingga proses kelahiran selesai. Dia terus disisi saya, membisikkan kata kata semangat yang menguatkan, membantu mengusapi peluh dan menggengam kuat tangan saya pada detik detik kelahiran sang bayi. Dan setelah semuanya baru saja usai dia mengusap kepala saya dan berkata sambil tersenyum “selamat ya, cantik bayinya.” Lalu bergegas pergi seolah ada pekerjaan yang harus dilakukan.

Saya sangat haru. Mesksipun bukan tugasnya, petugas pembersih itu telah berbuat baik dengan menemani saya selama proses persalinan yang berat. Ia hanya seorang petugas pembersih yang tanpa mengharapkan balasan apapun, serta merta menolong saya—yang tak mengenalnya dan tak pula dikenalnya.

Peristiwa di kelas dua itu menunjukkan : Kita memang tidak mampu melawan raksasa kapitalisme yang kini telah menguasai dunia hingga ke ruang – ruang kelas rumah sakit tapi kita tetap dapat membuat domain-domain kecil dimana uang bukanlah segala-galanya dan percaya, bahwa sekecil apapun kebaikan, itu tidaklah akan sia-sia.

Bogor, Jully 2010
HDW.


Read Full Post »

CHRIS JOHN

ini kisah nyata. Suatu malam (4 oktober 2009) di kediaman orang tua saya di Bogor. Empat bersaudara Hst (30), Wdy (27), Ast (25) dan Ajg (22), sedang duduk menikmati siaran televisi, diselingi obrolan seputar masalah sehari – hari.

Ast : “Gila, kasian banget yah Chris John.”

Wdy : “Kenapa emang?” (tatapan tidak beralih dari acara Take Him Out – Indosiar)

Ast : “Kemaren tanding gak ada suporternya coba, dikiit banget”

Hst : “Kasian banget, trus menang gak?”

Ast : “Menang sih, tapi sampe jatoh – jatoh gitu, baru deh yang nonton pada berdiri nyemangatin.”

Wdy : “Kasian amat.” (tatapan tidak beralih dari acara Take Him Out – Indosiar)

Hst : “Emang tanding dimana sih?”

Astrid : “Amerika

Wdy : “Yang penting menang.”

Hst : “iya, untung menang.”

Ajg, si bungsu – mahasiswi IP@, yang sedari tadi tidak terdengar suaranya tiba – tiba angkat bicara

Ajg : “Siapa sih Chris John?’ (sambil makan, kedua kaki diangkat keatas kursi ala tukang becak di warung kopi)

Ketiga kakaknya serentak terbelalak menatapnya.

Hst : “Innalillahi….. lw gak tau Chris John???“

Wdy : “Masa lw gak tau Chris John???” (melotot)

Ast : Huahahahhahahahaaaa… yaaa ammppuuunnnn…

Ajg : (Membela diri) : “Apaan sih?! Gw kan sibuk kuliah tau! Pulang malem mulu, Mana sempet gw nonton Tipi.”

Hst : “hahahah…. iya sih, sibuk kuliah, tapi gak segitunya kali, sampe gak tau Chris John.. kan sering di Tipi iklan yang ROSO! ROSO! ROSO! Sama mbah marijan”

Wdy : (Geleng – geleng kepala – prihatin)

Ast : Kemana aja jeng, sibuk sih sibuk..

Ajg : Allaahhh… tau deh gw, tau… Petinju kan!
H, W, A bernapas lega..

Wdy : Naahhh itu tau..

Ajg : Ya Iyya lahh… Petinju Amerika kan!

H, W, A : Huahahhhahaahahaa……(terpingkal – pingkal)

Hst : Yaa ampun… ajeng, mahasiswa IP@ …..bener-bener deh…

Ajg : (Misuh – Misuh jalan ke dapur) Apaan sih, lagian gak ngaruh kali, gw tau dia apa engga.”

Ast : “hahhaaha…ngaruh kali… nasionalisme lah..”

Wdy : (Geleng – geleng kepala – kembali menonton Take Him Out)

Papa : (muncul dari pintu setelah sedari tadi mendengarkan pertikaian kami) “Gak boleh gitu kamu Ajeng. Mahasiwa kok TERBELAKANG”.

Ajg : (Cemberut)

Begitulah potret pemuda pelajar jaman sekarang. Kurikulum yang berat, metode pendidikan yang kaku yang mereka tempuh sejak sd, smp dan sma, menjadikan para pelajar sibuk mengejar target dan cenderung apatis. Semoga Sekarang sudah ada yang memberitahunya siapa Chris John ^_^

Read Full Post »

Scarletta telah mati. Aku disana pada hari kematiannya, menyaksikan Ia melemparkan diri pada seekor Ular Berbisa yang langsung mengigitnya sehingga menggeleparlah Ia seketika seperti gila, lalu diam tak bergerak dan mati.
Mereka menyalahkanku karena hanya diam tak mencegahnya. Mereka tidak tahu  Scarletta memang telah mati sebelum Ular itu mengigitnya.

Ku saksikan sendiri Kekasihnya meracuni,  sebelum Ular itu menggigitnya mati.

Aku hanya saksi. Namun sekarang terkurung disini.

Sayup  kudengar alunan syahdu menyelusup ke balik terali..

“ Dikala sang bulan purnama
Bersinar diatas telaga
Terdengar suara menggema
Melagukan balada tua..

Kisah seorang puteri
Yang telah patah hati
Lalu bunuh diri

Tenggelam di telaga sunyi..
Bersama cintanya yang murni…” **)

Scarletta, nasibnya tidak seindah kisah Si Cantik Annabel Lee*)… Ia mati ditangan kekasihnya sendiri.

_______

Bogor, Juli 2010

*) Annabel lee – Edgar Poe
**) Telaga Sunyi – Koes Plus

Read Full Post »

J.E.D.A.

Untuk dapat terus Memberi
Ku tak boleh Jeda
Untuk dapat terus Mencinta
Ku tak boleh Jeda
Untuk dapat terus Bernafas
Ku tak boleh Jeda
Untuk dapat terus Berdetak
Ku tak boleh Jeda

Menjejak Bumi
Membelai Hujan
Menghirup Angin
Menggenggam Matahari

Tiada Jeda.

Bogor, July 2010.
HDW – Someday I`ll be Saturday Night.

Read Full Post »

EPILOG

Ku jatuhkan diriku dan menangis.

Menangis seperti belum pernah kulakukan

untuk keluargaku dan aku

Dan mereka yang kucintai

Dan semua yang terjadi

Yang mungkin terjadi

Atau tidak terjadi

Dan semua yang telah hilang.

Read Full Post »

Para pemikir eksistensialis yang menolak yang transenden dan mengagungkan imanensi, seperti Karl Marx, Nietzche, Michel Foucault dan sebagainya sebenarnya tidak dapat berkata apa-apa kepada individu yang mengalami penderitaan pribadi atau sedang mengalami krisis hidup. Sebagaimana Marxisme sebagai agama sekuler pertama di dunia yang menganjurkan agar manusia bersabar dan merasa gembira, karena pada akhirnya semua manusia akan mendapat kebahagiaan besar dan mendorong agar membantu perjuangan untuk itu.

Ya, para eksistensialis itu tidak dapat berkata apa-apa tentang tragedi dan penderitaan pribadi, seperti yang dialami oleh Minah, perempuan penduduk negara Republik Indonesia. Sebuah negeri yang mansyhur akan kekayaan alam nan eksotik, gemah ripah loh jinawi.

Minah sudah tua. Ia hanya petani kecil yang lelah dan sepi. Ia dihadapkan ke sidang pengadilan karena mencuri 3 buah cokelat yang sudah ranum milik sebuah perusahaan perkebunan besar yang terletak disebelah tempat tinggalnya pada November 2009 lalu. Minah dijatuhi hukuman berdasarkan pasal 362 KUHP yaitu vonis kurungan 1 bulan 15 hari.

Putusan hukuman itu menjadi ironis karena semakin membuktikan sangat kuatnya hukum di negeri ini bagi orang-orang yang miskin dan tidak berdaya, yang tidak mempunyai kekuasaan. Sementara lemah terhadap kasus koruptor besar yang telah sangat merugikan  rakyat dan Negara. Manakala Muslih Bambang, SH hakim ketua di Pengadilan Tinggi (PN) Purwekorto Jateng menangis bercucuran air mata, sementara tangannya dengan berat dan gemetar terpaksa mengetuk palu menjatuhkan vonis kepada Minah dan fenomena yang sangat menarik terjadi setelahnya : Nenek renta itu bangkit menghampiri sang hakim menyalaminya, seraya berucap tulus sembari tersenyum “Maturnuwun, Pak hakim.”

Berbagai komentar bermunculan tentang kenapa Ia tersenyum bahkan berterimakasih. Sebagian mengatakan itu terjadi karena Nenek Minah tidak paham, tidak pernah bersekolah, buta huruf, lugu, buta hukum, buta hak, bahkan buta bahasa sehingga tidak mengerti ketidakadilan yang tengah menimpa dirinya.

Tapi tidak demikian Saya melihatnya.

Tidak ada yang lebih mengerti dari Minah sendiri, bagaimana rasanya hidup di tanah yang kaya bagai surga, namun tidak pernah dapat cukup mencicipi manis hasil tanah air nya. Tidak ada yang lebih mengerti dari Minah sendiri bagaimana pahitnya menjadi petani buruh di lahan luas yang dikuasai oleh perusahaan besar. Tidak ada yang lebih mengerti dari Minah sendiri sulitnya hidup sebagai petani di negeri ini dimana tanahnya luas dan subur namun kesejahteraan petaninya terabaikan akibat ketidakjelasan arah pengembangan teknologi dan tidak konsistennya kebijakan pertanian. Tidak ada yang lebih mengerti dari Minah sendiri, bagaimana pedihnya bertahan hidup di negeri ini , agar tidak menjadi seperti ayam yang mati di lumbung padi.

Minah tidak bodoh, Ia tidak buta hak, Ia mengerti bahwa dirinya hidup dalam keterasingan diantara gegap gempita dan gemerlap kapitalisme yang melanda negerinya. Ia mengerti bahwa dirinya hidup disebuah tempat dimana hukum senantiasa berpihak kepada pemilik modal. Ia mengerti, namun Ia tetap tersenyum.

Bagaimanapun, sejarah manusia telah cukup bercerita akan fakta betapa manusia membutuhkan sesuatu yang transenden. Dalam kehidupan bernegara, Ketika keadilan dan kesejahteraan yang kerap dijanjikan elit penguasa terhadap rakyat kecil pada saat kampanye politik tidak juga terwujud ; Ketika kerja keras dan pengorbanan rakyat kecil tak kunjung memperoleh imbalan ; Ketika sistem dan kebijakan pembangunan tetap eksploitatif dan menekan kaum marginal ; Ketika pemerintahan semakin koruptif, sewenang-wenang, kesenjangan semakin lebar dan tatanan masyarakat yang adil belum juga tercapai kecuali nanti dan nanti ; Maka keadaan seperti inilah yang menyebabkan sakit dan pedih dihati manusia yang dunia tidak akan mampu mengobatinya. Pada kepedihan inilah Tuhan tidak tega. Dunia tidak akan mampu memikul beban individu yang sedemikian berat sebagaimana yang ditanggung oleh Minah. Ada sesuatu yang transenden dalam diri Minah. Itulah yang membuatnya tetap tersenyum.

Ya, Itulah kenapa dia tersenyum.

Bogor. 2010

Read Full Post »