Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Derrida’

OTORITAS

Seorang kawan yang baik pernah bertanya pada saya, mengapa pola pikir saya tentang agama tetap  ortodoks dan konservatif, melihat bermacam referensi saya yang sangat liberal. Sekilas Ia melemparkan guyonan bahwa semua referensi saya yang liberal itu ternyata tidak membawa pengaruh apapun terhadap cara pandang saya tentang surga dan neraka.

Saya tertegun dan lantas merenung.  Mencari jawaban atas pertanyaan itu bagi diri sendiri.

Sesuai kodratnya sebagai mahluk yang memiliki hawa nafsu, maka liberalisme pastilah akan sangat menggiurkan bagi manusia manapun. Termasuk saya, absolutely. Termasuk saya.

Tidaklah diragukan lagi kegeniusan nalar dan otoritas para filsuf barat yang berbicara tentang sains, filsafat, teologi. Dialektika Hegel misalnya : bahwa kebenaran merupakan suatu “on going process”. dimana apa yang diketahui terus berkembang: tahap yang sudah tercapai “disangkal” atau “dinegasi” oleh tahap baru. sehingga tahap lama itu menjadi tidak benar karena terbatas. Dalam hal keilmuan atau sains, dialektika Hegel  tentu saja mengandung kebenaran dan dapat diterapkan untuk menjelaskan bermacam gejala dan menciptakan banyak penemuan sebab berdasarkan teori keilmuan, seorang tidak akan pernah mendapatkan hal yang pasti mengenai suatu kejadian atau gejala tertentu, melainkan suatu kesimpulan yang probabilistik*) dan terbatas, karena ilmu pengetahuan selalu berkembang.

Namun bagaimana dengan hal yang menyangkut keyakinan, hakikat manusia yang bersifat teologis termasuk pancarannya ke segala arah?

Sekian banyak teori filsafat yang menafikkan agama, namun Ia tetap hadir dari zaman ke zaman. Agama, secara intuitif telah diterima sebagai sebuah kebenaran oleh seseorang, tanpa pola pikir dan logika  tertentu. Seorang begitu saja percaya bahwa yang diwahyukan adalah benar. Perkembangan keyakinan selanjutnya ditentukan pengalaman keberagamaan masing – masing orang.

Sederhananya, apakah saya akan belajar tentang keyakinan (faith), pertama dari Feurbach, Marx atau Nietzsche yang membunuh Tuhan; Focault homoseks yang akhirnya meninggal dunia karena aids  ; Atau dari Derrida, yang tidak peduli etika dan bahkan tidak mengenal dirinya sendiri?

Tentu saja tidak.

Keputusan menyerahkan diri pada otoritas penafsiran sahabat, mufasir, ulama, mujtahid – sebagai pemilik pemahaman yang paling mendekati kebenaran seperti apa yang dimaksudkan oleh ajaran-NYA –  sebagaimana meyakini bahwasanya perbuatan manusia kelak harus dapat dipertanggungjawabkan dihadapan Sang Pencipta di kehidupan selanjutnya, lebih banyak disebabkan oleh pemikiran hati meskipun logika juga berperan disana.

Kiranya sangatlah tepat peryataan Blaise Pascal**) bahwa dalam menentukan pemilik otoritas penafsiran tentang keyakinan : Hati memiliki logikanya sendiri.

.

Bogor, August 2010. – Hesty Dharmanita Wianggawati.

.

*)    Djudjun SS – Filsafat Ilmu 1986

**)  Blaise Pascal : French mathematician and philosopher and Jansenist; invented an adding   machine; contributed (with Fermat) to the theory of probability (1623-1662). Genius yang menjawab kritik  terhadap keyakinannya dengan mengatakan : “God cant be scientifically proven. I know whom I  Have believed. “

Read Full Post »