Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘pasar medis’

KELAS DUA

Kapitalisme kesehatan tengah merajalela di negeri ini. Kita semua merasakan, Rumah Sakit yang seharusnya lebih banyak berfungsi sebagai agen kemanusiaan telah menjelma menjadi pasar dimana status kesehatan ditentukan oleh status sosial dan kepemilikan modal. Segala sesuatu di Rumah Sakit dinilai dengan uang, bahkan untuk sekedar perlakuan yang ramah dan manusiawi dari paramedisnya.

Benarkah kapitalisme telah sedemikian merajai seantero kehidupan sehingga tidak ada lagi harapan untuk sesuatu yang tidak diukur dengan uang dalam interaksi antar manusia di sana ?

Sebagian mungkin benar, tapi tidak seluruhnya.

Pada 21 Mei 2009, saya meregang di ruang kelas dua di sebuah rumah sakit di Bogor, saat melahirkan putri kedua saya : Sofia
Saya berada dikelas II karena demikian fasilitas Askes yang saya miliki. Kelas Dua berarti selama proses kelahiran tidak diperbolehkan untuk ditemani oleh siapapun, kecuali paramedis. Tentu saja, melahirkan dengan didampingi oleh seorang dari keluarga adalah sesuatu yang ideal, sebab hasil penelitian membuktikan bahwa Ibu yang melahirkan dengan didampingi oleh orang terdekatnya maka akan jarang mengalami depresi pasca-salin (post partum blues) dan proses kelahirannya akan lebih lancar, cepat dan juga berpengaruh pada nilai APGAR bayi yang lebih baik. Tetapi sayang, itu hanya bisa didapat di Kelas Satu, yang artinya harus naik kelas dan membayar lebih mahal lagi.

Kita semua tahu, ambang sakit setiap manusia berbeda, tergantung anatomi dan kondisi tubuh tiap manusia, Ada ibu yang melahirkan tanpa merasa sakit atau sedikit sakit, namun pada persalinan kedua ini, saya merasakan sakit yang luar biasa. Sakit yang saya gambarkan sebagai sakit fisik yang paling menyakitkan yang pernah mendera saya. Namun Saya tetap berkeyakinan untuk bisa melahirkan secara normal dan terus menjalani proses nya. Hingga tiba pada suatu titik dimana saya merasa begitu membutuhkan empati dan simpati yang hal itu sama sekali tidak bisa diharapkan dari paramedis ruang kelas dua.

Ketika tengah meregang menahan sakit, seorang perempuan petugas pembersih bolak balik di ruang itu, Membereskan meja, menyapu, mengosongkan tempat-tempat sampah. Saat Ia menghampiri meja di samping tempat tidur saya, Saya yang tengah merasakan puncak rasa sakit serta merta menyambar dan mencengkram lengannya. Lalu saya memandang wajahnya dan berkata memohon sembari menangis menahan sakit “Ibu, tolong bu, Tolong temani sebentar, jangan pergi. “ Demikian saya meminta pada petugas pembersih itu.

Ini bukan cerita imajinasi. Petugas Pembersih itu yang menemani saya hingga proses kelahiran selesai. Dia terus disisi saya, membisikkan kata kata semangat yang menguatkan, membantu mengusapi peluh dan menggengam kuat tangan saya pada detik detik kelahiran sang bayi. Dan setelah semuanya baru saja usai dia mengusap kepala saya dan berkata sambil tersenyum “selamat ya, cantik bayinya.” Lalu bergegas pergi seolah ada pekerjaan yang harus dilakukan.

Saya sangat haru. Mesksipun bukan tugasnya, petugas pembersih itu telah berbuat baik dengan menemani saya selama proses persalinan yang berat. Ia hanya seorang petugas pembersih yang tanpa mengharapkan balasan apapun, serta merta menolong saya—yang tak mengenalnya dan tak pula dikenalnya.

Peristiwa di kelas dua itu menunjukkan : Kita memang tidak mampu melawan raksasa kapitalisme yang kini telah menguasai dunia hingga ke ruang – ruang kelas rumah sakit tapi kita tetap dapat membuat domain-domain kecil dimana uang bukanlah segala-galanya dan percaya, bahwa sekecil apapun kebaikan, itu tidaklah akan sia-sia.

Bogor, Jully 2010
HDW.


Read Full Post »