Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Waiting for Godot’

Honestly, I hardly enjoyed the script written by Samuel Beckett, Waiting for Godot, tragicomedy in two acts (1949). The masterpiece often reviewed by great writers.

For me as a commoner, the dialogue was tedious.

Farraginous topics discussed by Vladimir and Estragon, the two main characters in the story. From a tittle-tattle prattle about shoes and carrots to theological philosophy.

Of course, I giggled, in the part for example:

When Vladimir asks Estragon how the carrots he is eating and Estragon’s flat response: “its a carrot”

Or an absurd conversation:

Estragon: I suppose we blathered

Vladimir: about what?

Estragon: Oh, this and that, I suppose, nothing in particular. Yes, now I remember, yesterday evening we spent blathering about nothing in particular. That’s been going on now for half a century.

Or when a child came and constantly called Vladimir “Mr. Albert “with no explanation.

Following a mumbled jumbled and cavort dialogue was quite provoking, but also driven our curiosity on how the story will lead.

There must be hidden notions behind those brilliant conversations. But that’s not what I want to talk about.

The two rounds dialogue took place while Vladimir and Estragon were waiting for Godot.

Godot was continually mentioned in the conversation, but it never appeared. Those who wait also didn’t seems to know for sure what or who, they were waiting for.

But they keep on waiting as if they were forced and have no other choice but to wait for it. They continue to blather nervously while waiting for Godot.

The absurdity was the thing that made Godot became the center of attention. It showed existence, strength, and capability to forced both Vladimir and Estragon to keep on waiting until the end that it never showed up.

This situation was somewhat similar to current conditions. When everyone in the world constantly waiting and blathering about something, which nobody knows for sure about it, but everyone keeps waiting and discussing with an extraordinary intensity.

At this time

We’re all anxious

We’re all blathering

We’re all waiting

But not for Godot.

======

Bogor, April 2020

Hesty Dharmanita Wianggawati

Read Full Post »

Sejujurnya saya kurang bisa menikmati naskah yang ditulis Samuel Beckett, Waiting for Godot, tragicomedy in two acts (1949). Masterpiece yang ketika itu membuat saya penasaran, sebab seringkali diulas oleh para penulis hebat.

Bagi awam seperti saya, mengikuti dialog para tokoh dalam naskah tersebut terasa aneh dan menjemukan.

Begitu banyak hal dibicarakan oleh Vladimir dan Estragon, dua tokoh dalam cerita tersebut. Rupa-rupa, tak jelas. Dari mulai hal kecil tentang sepatu, wortel, sampai dengan filsafat teologi.

Begitu rumit, melompat-lompat dan campur aduk.

Tentu saja beberapakali saya tersenyum, pada bagian misalnya :

Saat Vladimir bertanya pada Estragon bagaimana rasa wortel yang Ia makan, dan reaksi kesal Estragon : “rasa wortel”

Atau pada sebuah percakapan yang absurd :

Estragon: Mungkin sebaiknya kita mengobrol.

Vladimir: tentang apa?

Estragon: Oh…tentang ini dan itu,  kukira, tidak ada yang khusus. Ya, aku ingat sekarang, kemarin malam kita menghabiskan waktu untuk mengobrol tentang hal – hal tak tentu. Itu sudah berlangsung selama setengah abad.

Atau ketika seorang anak datang dan terus menerus memanggil Vladimir  “Mr. Albert” tanpa ada penjelasan.

Mengikuti dialog yang berputar-putar, rasanya cukup memancing emosi, membuat kita penasaran kemana arah cerita ini sebenarnya?Bagaimana akhirnya?

Tentu ada makna yang ingin disampaikan Beckett dibalik setiap percakapan yang brilian. Tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan.

Dialog selama dua babak itu terjadi saat Vladimir dan estragon  sedang menunggu Godot.

Godot yang ditunggu, terus menerus disebut dalam dialog,  namun Ia tidak kunjung muncul.  Yang menunggu bahkan tidak tahu pasti, apa atau siapa sebenarnya yang ditunggu. Tapi seolah dengan terpaksa dan tidak ada pilihan lain kecuali menunggunya. Mereka terus bercakap-cakap dalam gelisah untuk mengisi waktu sembari menunggu Godot.

Absurditas itu yang semakin menjadikan Godot pusat perhatian, menunjukkan eksistensi dan kekuatannya memaksa Vladimir dan Estragon untuk tetap menunggunya hingga akhir cerita, namun Ia tidak pernah datang.

Situasi penantian ini agak mirip dengan kondisi sekarang. Saat seluruh dunia gelisah dan semua orang terus menerus membicarakan sesuatu, yang sebenarnya tidak seorangpun tahu pasti tentangnya, namun semua terus membahasnya dengan intensitas yang luar biasa dan menjalar kemana-mana.

Saat ini..

Semua gelisah,

Semua bercakap-cakap,

Semua menunggu,

Tapi bukan Godot.

======

Bogor, March 2020

HDW

Read Full Post »