Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Gula – Gula

Sebuah toples terisi penuh gula – gula

Seolah mengajak lidahku berdansa

 

“Maaf. Aku punya Gula. “

 

Ia merajuk mesra.

“Sedikit saja.. ” Bisiknya manja..

 

Gula – gula warna warni

Sangat menggoda hati ..

 

Seandainya itu adalah Ikan

Dan aku seekor kucing ..

Pasti gula – gula

Sudah kujilati dan kulumat habis

 

Tapi itu gula – gula , bukan Ikan.

Dan aku, bukan kucing.

 

“Maaf. Aku punya gula.”

 

 

***.

Bogor, April 2011

clip_image002

***

Puan Seruni bangkit dari tempat  tidurnya perlahan-lahan. Ia tidak ingin  membangunkan kekasihnya.

Dipandanginya pakaian mereka yang berserakan di lantai. Tas kerjanya di depan pintu, sepatu kanannya di bawah meja, sepatu kirinya dekat jendela dan kaos kakinya entah di mana.  Kamar itu begitu hening. Namun, kondisinya berantakan yang tak lain adalah saksi bisu dari gemuruh percintaan mereka semalam.

Ditatapnya dengan penuh cinta, pria yang tengah tidur berselimut di tempat tidurnya. Begitu tampan. Tubuhnya atletis dan wajahnya terpahat nyaris sempurna. Tak pernah puas hati Puan menatapnya, bahkan di usianya yang 39 tahun,  Raditya  tampak semakin menawan.

Puan baru akan mengenakan pakaiannya ketika Raditya terbangun.

“Ah.. jam berapa ini, Puan?” Katanya.

“Baru setengah sembilan, tinggallah sebentar lagi..” kata Puan sambil merebahkan kepalanya di atas dada Raditya yang bidang.

Lelaki itu langsung terlonjak, “  Gosh!  Honey,  aku mesti segera pulang, sekarang ini ada pesta ulang tahun Mamaku, kamu kan tahu. Kenapa tidak membangunkanku dari tadi sih?”

Raditya mengenakan pakaiannya cepat-cepat. Puan memandanginya tanpa daya.

“Kapan, kita ketemu lagi, Radit?”rengek Puan.

“Minggu depan, Sayang. Aku janji.”

Radit menciumnya cepat dan beranjak keluar dengan tergesa.

***

Puan melangkah ke depan cermin di pojok kamarnya. Ditatapnya bayangan dirinya di sana. Bola matanya cokelat berbinar cerdas, bibirnya kecil tapi penuh, hidungnya yang mancung, semua tertata pada wajah ovalnya. Warna kulitnya tidak terlalu terang, namun itu menjadikan kecantikannya semakin eksotik. Tak akan ada yang menyebutnya biasa. Ditambah dengan kecerdasan, kepribadiannya yang supel dan menarik, Puan Seruni sangat luar biasa.

Selepas kuliahnya di jurusan akuntansi di salah satu universitas negeri terkemuka di Jakarta, Puan bekerja sebagai Akuntan di salah satu Perusahaan baja multinasional, dan pada saat Puan mewakili perusahaannya dalam sebuah  meeting dengan perusahaan Metal Coorp. Saat itulah Ia mengenal Radit yang bukan hanya Manager di perusahaan tersebut  tapi juga putra tunggal sang direktur pemilik perusahaan sekaligus pewaris tunggal Metal Coorp.

Mereka pun berpacaran. Meskipun Puan tahu, Radit adalah pria beristri dan telah memiliki 2 orang anak. Ia tidak peduli. Toh, Radit selalu berkata bahwa Ia tidak pernah mencintai istrinya karena mereka menikah atas dasar perjodohan belaka.

“Aku pasti akan menceraikan Bella, dan segera menikahimu, cintaku Puan Seruni” Begitu Radit selalu berkata.

Kisah kasihnya dengan Raditya berlangsung membara. Kesuciannya adalah hal pertama yang Ia persembahkan untuk pria tampan itu, selanjutnya percintaan mereka semakin menggila.

Lelaki itu sangat tahu, bagaimana cara menikmati hidup. Dan Ia membawa Puan turut mencicipi manisnya kemewahan dan surga dunia.  Kehidupan serba Lux di apartemen mewah yang dibelikan Radit untuknya. Gaya hidup mewah ala Radit, foya–foya dan pesta anggur kini juga merupakan gaya hidupnya. Mabuk-mabukkan di klub-klub malam yang diakhiri dengan percintaan  yang dahsyat.  Bahkan tidak jarang  Radit  mencekokinya dengan ganja dan narkoba untuk menambah keasyikan mereka bercinta.

Percintaan dahsyat selama 5 tahun yang seluruhnya selalu berakhir sama seperti  saat ini, Radit yang tergesa-gesa, lari, dan pergi meninggalkannya, sendiri.

Kini sudah 5 tahun berlalu dan Radit tidak kunjung memenuhi  janjinya.

Puan mulai gelisah. Usianya kini sudah 29 tahun, dan Ia belum dapat memenuhi keinginan orang tuanya untuk segera menikah dan memberikan mereka cucu, bahkan sampai kematian ayahnya tiga bulan yang lalu.

***

Hingga tibalah mereka pada suatu hari yang menggemparkan di kantornya.

Hari itu Puan tengah berkonsentrasi memeriksa jurnal di meja kerjanya, saat Sosok  Bella  tiba-tiba  muncul di hadapannya.

Selama  5 tahun,  baru kali inilah Puan bertemu langsung dengan Bella, istri Radit.

“KAU, JALANG!!!!!” teriak Bella, diterjangnya Puan yang masih membeku di kursinya hingga Ia jatuh dan kepalanya membentur kaki meja.

Puan terlalu terkejut bahkan untuk bisa bersuara, apalagi membela diri.

“Ternyata Kamu yang menghancurkan keluargaku!”

PEREMPUAN MURAAHAN!!!”

Rekan–rekan kantornya berusaha melerai, namun kemarahan Bella begitu sulit untuk diredam. Ia terus berteriak, mencaci maki, memukuli  wajah Puan dengan apa saja yang bisa diraihnya, menjambak rambutnya sekuat tenaga, menendang tubuhnya, sementara Puan hanya meringkuk pasrah sembari menangis menahan sakit tanpa mampu berucap sepatah kata pun.

Sejak lama Puan tahu, saat seperti ini pasti akan tiba..Ia bahkan nyaris menantikannya.

Butuh 5 orang untuk menarik Bella keluar dari sana dan menyelamatkan Puan dari amukannya. Namun sepanjang koridor kantor mereka membawanya, perempuan itu terus menangis sambil meneriakkan kebencian, sakit hati dan kepedihan yang menyayat hati siapapun yang mendengarnya.

***

“Hushh..hushh..husshhh….Sayang, Sayang..”

“Berhentilah dulu menangis dan dengarkan aku,  dengarkan aku.. sekarang saatnya kita jalankan rencana kita, Ok?” suara Radit di telepon terdengar sangat panik.

“Dengar, kali ini aku akan benar-benar meninggalkannya, perempuan brengsek!” lanjut Radit.

“Sekarang tenangkanlah dirimu dulu, tidak usah khawatir, aku akan membereskan semuanya. Apa kamu dengar, Puan?”

“Ya…” lirih Puan, nyaris tak terdengar. Tubuhnya menggigil dan wajahnya penuh memar. Ucapan-ucapan Radit pun tak mampu menenteramkan hatinya.

Radit menghela nafas “Aku belum bisa menemuimu. Masih terlalu riskan. Terlalu bahaya. Bisa rusak rencana kita nanti. Untuk sementara tidak usah keluar rumah dulu ya. Kemasi saja barang-barangmu,  lusa aku akan menjemputmu. Kita terbang ke London.”

***

Hari itu, di Bandara International Soekarno-Hatta. Pesawat tujuan London, dua jam lagi akan take off.

Radit belum tiba. Tapi mereka sudah bicara di telepon semalam. Radit sangat mencintainya.

Ia pasti datang.

Puan  berdoa.

Mungkin inilah doa pertama yang ia panjatkan setelah bertahun-tahun ia berhenti berdoa.

Puan yakin, Radit akan datang. Tuhan masih menyayanginya, sebentar lagi impiannya akan terwujud.

Setelah semua pengorbanannya menjadi kekasih gelap Raditya selama bertahun-tahun.

Maka saat inilah Ia akan memetik hasil dari segala cinta dan ketulusannya selama ini.

Ia pasti datang.

Puan berdoa dan berdoa..

Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. .

“Halo..” suara lirih Puan, Firasatnya tidak enak.

“Sayang.. dengar, Ayahku sangat murka, aku tidak peduli dengan Bella  si brengsek itu, tapi ini Ayahku , Ia tahu rencana kita dan Ia sangat marah.”

Puan tercekat. Bayangan  tentang apa yang mungkin akan terjadi mulai  memenuhi benaknya.

“Bella mengadu pada Ayah. Ayahku, dia.. dia mengancam akan membekukan semua asetku dan mencoretku dari daftar warisannya.”

Puan  merasa mual “Tapi Radit, Ayahmu sudah sering mengancammu begitu..”

“Tidak, kali ini dia sungguh-sungguh, Puan. Sebagian rekeningku sudah diblokir, aku bisa kehilangan segala-galanya.”

Puan terisak “Radit, aku punya cukup tabungan…. “

“Puan …..”

“Kita bisa memulai semuanya dari awal…..Kita bisa…”

“Puan, Maafkan Aku…”

“Jangan… Radit.. “ Puan menggigil. Nafasnya terasa sangat sesak.

“Maafkan aku..Puan” suara Radit terbata.

“Kumohon…”  tubuh Puan gemetar hebat.

“Maafkan aku.. “

“Maafkan aku Puan..”

***

Bagaimanakah nasib Puan Seruni selanjutnya? dan bagaimana kelanjutan hubungan antara Puan dan Raditya? mari kita lanjutkan kisahnya dalam Sandaran Hati yang ditulis oleh Rohmi Arundati (Nandini), jika belum membaca cerita pertama silahkan baca Saat Semuanya Terlihat Sempurna yang di tulis oleh Fitriane Lestari (‘Ne)

Artikel ini diikutsertakan dalam pagelaran Kecubung 3 Warna yang diadakan oleh newblogcamp.com

NEGERI PELANGI

Malam itu Ia tidak banyak bicara, lebih banyak diam, memandangi langit – langit  kamar.  Saya segera menutup buku dan menghampirinya lalu bertanya kenapa Ia  tidak banyak mengoceh seperti biasanya, apa yang tengah Ia pikirkan.

Adlina Widad (4 th), memeluk saya dan dengan sedih balik bertanya, kenapa semua manusia pasti mati?  Lalu ia berkata :  tidak ingin mati, dikubur dan disiksa Tuhan.

Saya tidak terlalu terkejut. Pada usia 3 tahun Ia berkali – kali bertanya : Jiwa itu apa, Jiwa adanya dimana,  Jiwa bentuknya seperti apa dsb. Hal – hal demikian sepertinya sangat menarik baginya dan sedikit mengherankan pada awalnya, mengingat saat itu Ia masih batita.

Saya pun menjelaskan padanya tentang manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa. Kehidupan tubuh sangat sebentar, bisa jadi jelek, tua, sakit, membusuk dan mati. Saat tubuh rusak dan mati maka tubuh dikuburkan. Tubuh mati tapi jiwanya yang indah lepas, kelak terbang ke negeri pelangi yang abadi. Di negeri pelangi kelak jiwa kita akan bertemu dengan Tuhan, malaikat, para nabi dan orang- orang yang kita sayangi. Semakin kita banyak berbuat baik, jiwa semakin indah dan perjalanan menuju negeri pelangi akan semakin mudah. Itulah kenapa kita harus selalu berusaha berbuat baik pada orang tua, teman, guru, semua orang disekeliling kita termasuk hewan dan tumbuhan.

Bahwa siksa kubur memang ada dan akan menimpa orang-orang yang keji dan tidak mau bertobat, kita harus percaya. Tapi Tuhan bukanlah maha penyiksa yang kejam dan mengerikan. Tuhan Maha Baik, Maha Agung, Maha Penyayang dan tidak mungkin merasa perlu menyiksa hambanya : Manusia itu tidak ada yang sempurna dan pasti berbuat  salah. Tuhan sangat mengasihi dan menyayangi hambanya, Maha lembut, Maha Pemaaf  dan Maha Kuasa. Sifat –sifat Tuhan sangat lah indah.

Penjelasan sederhana dan disertai beberapa shortcut itu, saya kira jauh lebih sesuai terutama untuk anak seusianya. Sepanjang saya menjelaskan, Ia menyimak dengan seksama dan terlihat begitu takjub, hingga akhirnya tersenyum lega.

Begitu banyak cerita – cerita tentang siksa Tuhan yang teramat dahsyat dan tak tertanggungkan di masyarakat. Sungguh saya tidak ingin Ia menjadi terasing dari proses yang membentuk dirinya karena pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab terus menerus menanamkan rasa horor  terhadap Tuhan dalam dirinya.

Biarkan ia tumbuh dan berkembang dengan penuh kerinduan pada negeri pelangi, pada keindahan yang maha indah. Keimanan tumbuh, lebih disebabkan oleh rasa kerinduan dan kebutuhannya terhadap Tuhan, bukan ketakutan.

Adlina putriku, dengan caranya sendiri, kelak akan menemukan : Hidup ini hanya sekejap mimpi, memang bukan disini tempatnya mencari kebahagiaan hakiki, karena ini bukan negeri pelangi.

Bogor, Februari 2011.

Hesty Dharmanita W

Issabella

 

“What`s in a Name” , demikian Shakespeare dalam karyanya Romeo and Juliet yang termansyhur. “That which we call a rose by any other name, would smell as sweet.*)

Bagi Issabella kawan saya, mungkin segalanya.

Sebuah “nama diri”  tidak saja mengandung doa, namun juga menimbulkan nalar dan rasa**).  Issabella mendeskripsikan sosok perempuan,  terasa seperti bunga,  gula,  atau segala sesuatu yang manis.

Issabela, drummer yang disegani dikalangan pemusik di kota saya karena kepiawaiannya memainkan perkusi. Ia anak ke-4 dari 5 bersaudara, yang terdiri dari 4 laki-laki dan 1 perempuan. Ketiga kakaknya adalah laki-laki. Setelah kelahiran putra ketiga, almarhum Ayahanda Issabel sangat mendambakan anak perempuan. Maka, saat anak keempatnya lahir, tanpa ragu dinamainya bayi itu : Issabella.

Meskipun ia laki-laki, sebagaimana ketiga kakaknya.

Peristiwa tersebut konon merupakan bentuk protes ayahanda Issabella, yang beberapa tahun kemudian dijawab Tuhan dengan dilahirkannya seorang anak perempuan. Namun, dapat dibayangkan implikasi sosial psikologis yang harus dialami Issabella kecil hingga Ia cukup dewasa untuk  bisa  menerima dengan lapang dada nama yang diberikan orangtuanya.

Berbagai studi menyatakan :  terdapat relasi kuat antara nama diri  dengan identitas manusia. Sebagai contoh : Saat face to face, secara intuitif seorang cenderung akan memperkenalkan dirinya dengan berkata “ Saya Issabella” bukan “Hai, nama saya Issabella”. atau saat memperkenalkan seseorang pada keluarga kita : “ Ibu, perkenalkan ini Issabela.”  Bukan :  “Ibu, perkenalkan orang ini bernama Issabella.”

Hal ini menunjukan bahwa manusia secara intuitif mengasosiasikan identitas dirinya atau orang lain dengan nama diri dan betapa penting arti sebuah nama diri bagi individu maupun lingkungan sosial serta efek yang dapat ditimbulkan sebuah nama bagi dirinya atau anak-anaknya. Itulah kenapa, setiap kita perlu menyadari, tentang aspek psikologis, historis, hukum, etnik, magis, dan religius dari sebuah nama.

Karena sebuah nama, tidak pernah hanya sekedar nama.

 

 

Bogor, Februari 2011

Hesty Dharmanita W

=================================

 

note :  Please Guys, Dont  Try This, At Home. ;)

 

 

*) William Shakespeare, Romeo and Juliet, (1564 – 1616)

**) John Stuart Mill. A System of Logic

TUBUH

Jiwa jauh lebih unggul daripada tubuh. Sementara Tubuh tetap di bumi, pikiran manusia mampu melesat jauh menembus langit.

Demikian, kaum esensialis yang kebanyakan para filsuf dan teolog cenderung mencela tubuh dalam pikiran-pikiran mereka yang cemerlang. Memandang tubuh sebagai musuh dan penjara bagi jiwa, mengagungkan kekuatan pikiran dan mengabaikan keberadaan tubuh.

Konflik antara tubuh dan jiwa telah berlangsung sepanjang sejarah keberadaan manusia, setua pertikaian antara surga dan neraka.

Anthony Synnott dalam The Body Social : Symbolism, Self and Society 1993 menyatakan hiper – intelektualisme tradisi kultural barat secara historis mengistimewakan jiwa atas tubuh karena pada kenyataannya, kebanyakan manusia memang kerap kesulitan dalam menghadapi keinginan dan nafsu tubuhnya. Sebagian kecil mampu bertahan memperlakukan tubuhnya sesuai dengan norma dan ajaran agama mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, sebagian lain kerap tak berdaya dan memilih memuaskan segala hasrat tubuhnya sekalipun bertentangan dengan nuraninya.

Itulah kenapa jauh – jauh hari Plato menekankan bahwa tubuh dan jiwa bukan hanya terpisah melainkan keduanya bertentangan dan tidak sama. Menurutnya, hanya dalam kematian saja, jiwa dapat dibebaskan dari keinginan dan nafsu jahat tubuh.

Adapun, Freud menggambarkan konflik pemuasan keinginan tubuh dalam bentuk konflik alam bawah sadar antara Id, super-ego dan ego, dan pertikaian antara ketiganya bahkan dapat menyebabkan penyakit jiwa tertentu.

Terlepas dari konflik tubuh dan jiwa, manusia memang cenderung kurang menghargai keberadaan tubuhnya. Pertama, jika Ia tidak dipandang sebagai penjara atau musuh dimana setiap keinginan biologisnya adalah dosa ; yang kedua, tubuh diabaikan, disalahgunakan dan diperlakukan seenaknya – kesehatan dianggap wajar dan kesempurnaan tubuh yang sesungguhnya merupakan suatu keajaiban medis, dipandang sebagai sesuatu yang biasa.

Sungguh tragis, bahwa kebanyakan orang harus jatuh sakit dahulu sebelum mereka memahami betapa berharganya tubuh itu. Tubuh tidak pernah benar-benar diperhatikan hingga akhirnya terjadi perubahan-perubahan pada tubuh secara tiba-tiba, mengalami sakit atau tubuh terancam kematian.

Justru pada saat itulah manusia memahami hakikat keberadaan tubuh dan jiwanya secara bersama-sama di dunia. Tubuh dan jiwa saling menyadari keberadaannya satu dengan yang lain dan betapa mereka saling membutuhkan untuk dapat tetap berfungsi dengan baik. Menyadari bahwa tubuhnya bukanlah musuhnya, bukan pula obyek untuk diperlakukan semena-mena, tapi sebagaimana Al- Ghazali : Tubuh adalah kendara jiwa untuk menorehkan baik buruk catatan keberadaan diri ; adalah kendara jiwa, untuk mendekatkan diri kita kepada Sang Khalik atau menjauhkannya.

Bogor, Januari 2011.

By : HDW

Catatan :

Dalam hal ini pikiran merupakan bagian dari jiwa – namun beberapa sarjana membedakan antara jiwa dan pikiran.

ISTIRAHAT

TERIMAKASIH BANYAK ATAS KUNJUNGAN SOBAT BLOGGER KE TELAGA SUNYI, UNTUK SEMENTARA WAKTU SAYA HARUS ISTIRAHAT DARI AKTIVITAS TERMASUK BLOGGING DIKARENAKAN SESUATU HAL. IM GONNA MISS YOU ALL AND HOPE TO BE BACK SOON. THANKS SO MUCH, EVERYONE..

BRIGO

Telah kau tempuh perjalanan yang panjang

Demi sebuah tiba yang tak kunjung ada

.

Dari hiruk pikuk kota

Hingga ke Hutan Sunyi

Dari Taman-taman indah

Hingga ke padang tandus

.

Dengan kesedihan dan senyuman

Yang mengiringi  setiap langkah

Dan Pergulatan tak berkesudahan

Tentang mimpi dan Kenyataan

Tentang kehidupan dan kematian

Tentang Cinta dan perpisahan

.

Brigo ..

.

Tataplah kedua mataku dan dengarkan ini

.

Kelak akan Tiba

Dimana Kesedihanmu Berubah Menjadi Gelak Tawa

Airmata menguap dan turun kembali menjadi Bulir -Bulir yang Menyejukkan

Dan Kau akan bertemu dengan Cinta

Pengantinmu  yang Lembut dan Jelita

.

Semoga Kau Selalu Percaya

Semoga Kau Tidak Lupa

Bahwa Kau Istimewa

.

Brigo..

.

Aku Berdoa Untukmu

Untuk Cinta yang selalu kau dambakan

Matahari yang selalu Bersinar Terang

Malam – malam yang Cerah dan Bercahaya

Tawa, canda dan kedamaian dalam kehidupanmu

Dan Untuk segala Keberkahan yang  Bergemerincing  Mengikutinya.

***

Bogor, September 2010

Hesty Dharmanita W

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.