
***
Puan Seruni bangkit dari tempat tidurnya perlahan-lahan. Ia tidak ingin membangunkan kekasihnya.
Dipandanginya pakaian mereka yang berserakan di lantai. Tas kerjanya di depan pintu, sepatu kanannya di bawah meja, sepatu kirinya dekat jendela dan kaos kakinya entah di mana. Kamar itu begitu hening. Namun, kondisinya berantakan yang tak lain adalah saksi bisu dari gemuruh percintaan mereka semalam.
Ditatapnya dengan penuh cinta, pria yang tengah tidur berselimut di tempat tidurnya. Begitu tampan. Tubuhnya atletis dan wajahnya terpahat nyaris sempurna. Tak pernah puas hati Puan menatapnya, bahkan di usianya yang 39 tahun, Raditya tampak semakin menawan.
Puan baru akan mengenakan pakaiannya ketika Raditya terbangun.
“Ah.. jam berapa ini, Puan?” Katanya.
“Baru setengah sembilan, tinggallah sebentar lagi..” kata Puan sambil merebahkan kepalanya di atas dada Raditya yang bidang.
Lelaki itu langsung terlonjak, “ Gosh! Honey, aku mesti segera pulang, sekarang ini ada pesta ulang tahun Mamaku, kamu kan tahu. Kenapa tidak membangunkanku dari tadi sih?”
Raditya mengenakan pakaiannya cepat-cepat. Puan memandanginya tanpa daya.
“Kapan, kita ketemu lagi, Radit?”rengek Puan.
“Minggu depan, Sayang. Aku janji.”
Radit menciumnya cepat dan beranjak keluar dengan tergesa.
***
Puan melangkah ke depan cermin di pojok kamarnya. Ditatapnya bayangan dirinya di sana. Bola matanya cokelat berbinar cerdas, bibirnya kecil tapi penuh, hidungnya yang mancung, semua tertata pada wajah ovalnya. Warna kulitnya tidak terlalu terang, namun itu menjadikan kecantikannya semakin eksotik. Tak akan ada yang menyebutnya biasa. Ditambah dengan kecerdasan, kepribadiannya yang supel dan menarik, Puan Seruni sangat luar biasa.
Selepas kuliahnya di jurusan akuntansi di salah satu universitas negeri terkemuka di Jakarta, Puan bekerja sebagai Akuntan di salah satu Perusahaan baja multinasional, dan pada saat Puan mewakili perusahaannya dalam sebuah meeting dengan perusahaan Metal Coorp. Saat itulah Ia mengenal Radit yang bukan hanya Manager di perusahaan tersebut tapi juga putra tunggal sang direktur pemilik perusahaan sekaligus pewaris tunggal Metal Coorp.
Mereka pun berpacaran. Meskipun Puan tahu, Radit adalah pria beristri dan telah memiliki 2 orang anak. Ia tidak peduli. Toh, Radit selalu berkata bahwa Ia tidak pernah mencintai istrinya karena mereka menikah atas dasar perjodohan belaka.
“Aku pasti akan menceraikan Bella, dan segera menikahimu, cintaku Puan Seruni” Begitu Radit selalu berkata.
Kisah kasihnya dengan Raditya berlangsung membara. Kesuciannya adalah hal pertama yang Ia persembahkan untuk pria tampan itu, selanjutnya percintaan mereka semakin menggila.
Lelaki itu sangat tahu, bagaimana cara menikmati hidup. Dan Ia membawa Puan turut mencicipi manisnya kemewahan dan surga dunia. Kehidupan serba Lux di apartemen mewah yang dibelikan Radit untuknya. Gaya hidup mewah ala Radit, foya–foya dan pesta anggur kini juga merupakan gaya hidupnya. Mabuk-mabukkan di klub-klub malam yang diakhiri dengan percintaan yang dahsyat. Bahkan tidak jarang Radit mencekokinya dengan ganja dan narkoba untuk menambah keasyikan mereka bercinta.
Percintaan dahsyat selama 5 tahun yang seluruhnya selalu berakhir sama seperti saat ini, Radit yang tergesa-gesa, lari, dan pergi meninggalkannya, sendiri.
Kini sudah 5 tahun berlalu dan Radit tidak kunjung memenuhi janjinya.
Puan mulai gelisah. Usianya kini sudah 29 tahun, dan Ia belum dapat memenuhi keinginan orang tuanya untuk segera menikah dan memberikan mereka cucu, bahkan sampai kematian ayahnya tiga bulan yang lalu.
***
Hingga tibalah mereka pada suatu hari yang menggemparkan di kantornya.
Hari itu Puan tengah berkonsentrasi memeriksa jurnal di meja kerjanya, saat Sosok Bella tiba-tiba muncul di hadapannya.
Selama 5 tahun, baru kali inilah Puan bertemu langsung dengan Bella, istri Radit.
“KAU, JALANG!!!!!” teriak Bella, diterjangnya Puan yang masih membeku di kursinya hingga Ia jatuh dan kepalanya membentur kaki meja.
Puan terlalu terkejut bahkan untuk bisa bersuara, apalagi membela diri.
“Ternyata Kamu yang menghancurkan keluargaku!”
“PEREMPUAN MURAAHAN!!!”
Rekan–rekan kantornya berusaha melerai, namun kemarahan Bella begitu sulit untuk diredam. Ia terus berteriak, mencaci maki, memukuli wajah Puan dengan apa saja yang bisa diraihnya, menjambak rambutnya sekuat tenaga, menendang tubuhnya, sementara Puan hanya meringkuk pasrah sembari menangis menahan sakit tanpa mampu berucap sepatah kata pun.
Sejak lama Puan tahu, saat seperti ini pasti akan tiba..Ia bahkan nyaris menantikannya.
Butuh 5 orang untuk menarik Bella keluar dari sana dan menyelamatkan Puan dari amukannya. Namun sepanjang koridor kantor mereka membawanya, perempuan itu terus menangis sambil meneriakkan kebencian, sakit hati dan kepedihan yang menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
***
“Hushh..hushh..husshhh….Sayang, Sayang..”
“Berhentilah dulu menangis dan dengarkan aku, dengarkan aku.. sekarang saatnya kita jalankan rencana kita, Ok?” suara Radit di telepon terdengar sangat panik.
“Dengar, kali ini aku akan benar-benar meninggalkannya, perempuan brengsek!” lanjut Radit.
“Sekarang tenangkanlah dirimu dulu, tidak usah khawatir, aku akan membereskan semuanya. Apa kamu dengar, Puan?”
“Ya…” lirih Puan, nyaris tak terdengar. Tubuhnya menggigil dan wajahnya penuh memar. Ucapan-ucapan Radit pun tak mampu menenteramkan hatinya.
Radit menghela nafas “Aku belum bisa menemuimu. Masih terlalu riskan. Terlalu bahaya. Bisa rusak rencana kita nanti. Untuk sementara tidak usah keluar rumah dulu ya. Kemasi saja barang-barangmu, lusa aku akan menjemputmu. Kita terbang ke London.”
***
Hari itu, di Bandara International Soekarno-Hatta. Pesawat tujuan London, dua jam lagi akan take off.
Radit belum tiba. Tapi mereka sudah bicara di telepon semalam. Radit sangat mencintainya.
Ia pasti datang.
Puan berdoa.
Mungkin inilah doa pertama yang ia panjatkan setelah bertahun-tahun ia berhenti berdoa.
Puan yakin, Radit akan datang. Tuhan masih menyayanginya, sebentar lagi impiannya akan terwujud.
Setelah semua pengorbanannya menjadi kekasih gelap Raditya selama bertahun-tahun.
Maka saat inilah Ia akan memetik hasil dari segala cinta dan ketulusannya selama ini.
Ia pasti datang.
Puan berdoa dan berdoa..
Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. .
“Halo..” suara lirih Puan, Firasatnya tidak enak.
“Sayang.. dengar, Ayahku sangat murka, aku tidak peduli dengan Bella si brengsek itu, tapi ini Ayahku , Ia tahu rencana kita dan Ia sangat marah.”
Puan tercekat. Bayangan tentang apa yang mungkin akan terjadi mulai memenuhi benaknya.
“Bella mengadu pada Ayah. Ayahku, dia.. dia mengancam akan membekukan semua asetku dan mencoretku dari daftar warisannya.”
Puan merasa mual “Tapi Radit, Ayahmu sudah sering mengancammu begitu..”
“Tidak, kali ini dia sungguh-sungguh, Puan. Sebagian rekeningku sudah diblokir, aku bisa kehilangan segala-galanya.”
Puan terisak “Radit, aku punya cukup tabungan…. “
“Puan …..”
“Kita bisa memulai semuanya dari awal…..Kita bisa…”
“Puan, Maafkan Aku…”
“Jangan… Radit.. “ Puan menggigil. Nafasnya terasa sangat sesak.
“Maafkan aku..Puan” suara Radit terbata.
“Kumohon…” tubuh Puan gemetar hebat.
“Maafkan aku.. “
“Maafkan aku Puan..”
***
Bagaimanakah nasib Puan Seruni selanjutnya? dan bagaimana kelanjutan hubungan antara Puan dan Raditya? mari kita lanjutkan kisahnya dalam Sandaran Hati yang ditulis oleh Rohmi Arundati (Nandini), jika belum membaca cerita pertama silahkan baca Saat Semuanya Terlihat Sempurna yang di tulis oleh Fitriane Lestari (‘Ne)
Artikel ini diikutsertakan dalam pagelaran Kecubung 3 Warna yang diadakan oleh newblogcamp.com